Senin, 05 September 2011

MUADZIN KETUJUH

(Dimuat di Jurnas, 7 Agustus 2011)

Akhirnya aku pulang ke kampung ini. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Entah, sudah berapa tahun aku meninggalkannya, berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain, hingga beberapa tahun kemudian menetap di Jakarta sebagai salah satu pimpinan sebuah perusahaan besar. Usia memang tidak bisa dipaksakan, juga faktor kesehatan. Beberapa bulan yang lalu, aku mengajukan pensiun. Perusahaan ternyata menyetujuinya. Dengan berbagai pertimbangan matang, aku memutuskan akan menghabiskan masa tua di tanah kelahiran.

Anak-anakku sudah besar dan membangun rumah tangga sendiri-sendiri. Mereka sebenarnya tidak setuju aku kembali ke desa. Takut jika nanti terjadi apa-apa, tidak ada yang menjaga dan merawatku. Namun, tegas kukatakan kepada mereka, keputusanku ini sudah bulat. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku merasa masih bisa berbuat lebih banyak lagi bagi kampung halaman, yang dari dulu sampai sekarang, tetap saja tanpa kemajuan berarti ini.

Meski dalam hati, sebenarnya aku menangis. Aku sebisa mungkin mengingkarinya dan berusaha tetap tegar di hadapan anak-anakku. Ya, semenjak kepergian Laila, isteriku tercinta, mendahului menghadap sang pencipta beberapa tahun lalu, aku seperti kehilangan separuh jiwa. Tiada lagi pendamping yang setia menemani dan memberiku pertimbangan, baik dalam keadaan suka maupun duka. Aku benar-benar goyah dan kehilangan pegangan. Untuk melupakan semua itu, jujur, sebenarnya keputusan ini kuambil.

Dan beberapa hari yang lalu, aku telah menginjakkan kaki di kampung halaman. Yang kutuju pertama kali adalah sebuah rumah baru, terletak tak berapa jauh dari masjid kampung yang cukup besar. Beberapa tahun belakangan ini, aku memang mengirim uang ke kampung, menyuruh saudara jauhku membangunkan rumah diatas tanah peninggalan orang tua. Kini, setelah hampir sempurna, rumah itu kutempati seorang diri.

Ada kebiasaan baru, yang dulu sewaktu masih bekerja di kota, jarang bahkan tidak pernah kulakukan sama sekali. Ya, aku kini menjadi rajin ke masjid yang terletak di dekat rumahku. Masjid itu, sewaktu aku pertama kali datang, walau besar tetapi tampak kotor dan tidak terawat. Jarang ada orang yang sholat berjamaah di dalamnya, kecuali pada waktu sholat Jum’at saja. Aku tahu, daerah ini adalah daerah abangan. Penduduknya mempunyai pengetahuan dan pemahaman agama yang biasa-biasa saja.

Namun, ada kisah menggelitik tentang masjid itu, khususnya tentang muadzinnya, yang membuatku penasaran dan menjadi harap-harap cemas tentang suatu hal. Ya, tentang suatu hal yang kupikirkan sejak Laila meninggalkanku.. Meski tak masuk akal, kisah itulah sebenarnya yang membuatku begitu tertambat kepada masjid itu.

Setiap pagi menjelang, suaraku yang tak terlalu merdu, membelah kampung membangunkan orang-orang untuk segera menunaikan Sholat Subuh. Seperti halnya yang dilakukan oleh enam orang pendahuluku, muadzin-muadzin itu, yang sekarang telah beristirahat dengan damai di makam belakang masjid.

***

Mula-mula aku tak begitu peduli dengan masjid itu. Beberapa waktu terakhir ini, sholatku memang rutin, tetapi lebih banyak kukerjakan sendirian di rumah. Hingga suatu hari, entah mengapa, ada yang mendorongku bertanya kepada Sarkoni, orang yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku.

“Mas Sarkoni, sepertinya ada yang aneh dengan masjid ini ? Besar tetapi kok tak terawat dengan baik. Jama’ahnya juga hampir tak ada.”

“Wah, itu ada ceritanya Pak Sambas.”

“Cerita gimana, maksud Mas Sarkoni ?”

“Begini Pak, ada kepercayaan oleh orang-orang kampung, mereka yang aktif di masjid, khususnya yang rutin azan, dapat ditebak bahwa ajal mereka sudah dekat.”

“ Kok bisa begitu ? Saya jadi bingung, Mas.”

“Benar, Pak Sambas. Ini dapat dibuktikan dari muadzin-muadzin masjid ini yang sekarang sudah meninggal.”

Aku benar-benar penasaran dengan penuturan Sarkoni. Melihat gelagatku yang ingin tahu lebih banyak, akhirnya Sarkoni mulai bercerita, tanpa kuminta.

“Dulu, pada awal-awal dibangun, masjid ini sebenarnya ramai sekali, Pak. Orang-orang kampung sini, yang minim pengetahuan agamanya, seperti mendapat kebanggaan tersendiri dengan adanya masjid ini. Tanah tempat masjid ini dibangun diperoleh dari wakaf Pak Kadus Mantan sedangkan dana dan pembangunannya dilakukan gotong royong oleh warga kampung sendiri. Alhasil, setelah masjid ini dapat berdiri dengan cukup besar, banyak pujian dari kampung-kampung lain. Warga pun antusias melakukan aktivitas keagamaan di disini.”

Sarkoni menghentikan ceritanya, mulai menyalakan sebatang rokok yang sedari tadi dimain-mainkan di jemarinya. Aku jadi tak sabar.

“Lantas ?”

“Tetapi lambat laun, ada sesuatu yang ganjil dirasakan oleh warga kampung. Setiap warga kampung yang berinisiatif menjadi muadzin, tak lama kemudian dipastikan akan meninggal dunia. Hingga kini, tidak ada yang berani mengkhususkan diri menjadi muadzin disini. Tak ada lagi yang mengumandangkan azan, memanggil warga untuk datang ke masjid. Karena itulah, lama-lama jama’ah masjid ini berkurang, bahkan nyaris tak ada sama sekali.”

Aku makin penasaran, “Masak bisa begitu sih, Mas ?”

“Bapak, boleh percaya boleh tidak, yang pasti sudah enam muadzin tetap masjid ini yang meninggal dunia. Kalau masih penasaran, Bapak boleh bertanya kepada warga lainnya.”

Memang demikianlah adanya, setelah beberapa waktu di kampung ini, aku banyak mendengar cerita tentang muadzin-muadzin itu. Mulai dari Pak Kadus Mantan (pendiri masjid), Pak Tejo Gusar (mantan pejabat kabupaten), Mbah Kasan Berahi (lelaki yang suka main perempuan) hingga Karto Kapak (preman kampung yang kemudian insyaf), sama persis dengan yang diceritakan Sarkoni. Ternyata setelah kutelisik lebih lanjut, muadzin-muadzin itu, kecuali Pak Kadus Mantan yang terkenal alim, banyak tersandung berbagai masalah dalam hidupnya. Menginjak usia senja, karena sebab yang berbeda-beda, mereka bertobat dan akhirnya khusyu di masjid hingga menghembuskan nafas terakhir. Dalam hati aku bergumam, sungguh beruntung sekali mereka. Memang seperti itulah sebenarnya yang diinginkan banyak orang. Walau dalam hidupnya banyak bergelimang dosa, tetapi dapat mati dalam keaadaan yang baik dan mulia atau khusnul khotimah.

Tiba-tiba terbersit dalam benakku, untuk mengikuti jejak mereka. Ya, bukankah masa laluku juga banyak diliputi kekelaman, tak jauh berbeda dengan mereka. Tipu daya dan keculasan sering kulakukan untuk kepentingan bisnis hingga bisa hidup makmur seperti sekarang. Lagi pula, sudah lama aku ingin menyusul Laila, isteriku yang sangat kucintai. Di dunia ini, tanpa Laila, hidupku benar-benar hampa.

Ah, mulai sekarang, akan kuhidupkan kembali toa masjid itu. Aku ingin mengumandangkan adzan setiap waktu sholat tiba. Akan kuramaikan kembali denyut nadi masjid itu. Semoga, ini merupakan jalan yang ditunjukkan Allah untuk bertemu kembali dengan isteriku di surga.

***

Maka, hari-hari berikutnya, aku mengurus masjid itu. Membersihkan bagian dalam masjid dan juga lingkungan sekitarnya yang tampak kotor. Beberapa bagian lain yang rusak, juga kuperbaiki. Peralatan dan perlengkapan yang belum ada, telah kubelikan pula. Semuanya dengan uang dari kantongku sendiri. Aku benar-benar ingin menghabiskan masa tuaku dengan merawat dan menghidupkan rumah tuhan itu dengan harapan Gusti Allah cepat pula memanggilku dalam keadaan yang benar-benar khusnul khotimah.

Setiap fajar menjelang, saat warga kampung masih terbuai mimpi, aku sudah bergegas ke arah masjid. Mengambil air wudlu, kemudian saat waktu Subuh tiba, aku bergerak mengambil toa lantas mengumandangkan adzan dengan penuh khidmat, walau suaraku tiada bisa merdu seperti muadzin-muadzin kebanyakan. Demikan juga di waktu-waktu sholat lainnya, aku melakukan hal serupa. Masjid itu kembali terdengar gaungnya. Jama’ah masjid pun mulai bertambah sedikit demi sedikit.

Aku mulai mendengar bisik-bisik warga kampung tentang keberanianku menjadi muadzin ketujuh masjid itu. Mereka sepertinya menebak-nebak dan menghitung hari, kapan kematianku tiba. Aku justru senang sekali. Aku makin giat dan khusyu beribadah di masjid itu. Aku benar-benar siap menyambut ajalku.

Waktu terus berlalu, hari berganti hari hingga berbilang tahun, namun kematian yang kunantikan tak kunjung tiba. Aku hampir putus asa. Tetapi aku tak menyerah. Kini, dalam doaku, aku lebih tekun meminta kepada tuhan supaya kematianku dipercepat. Tuhan maha mendengar, hingga saat itupun akhirnya tiba.

Subuh itu, seperti biasanya, aku mengambil air wudlu untuk menuanaikan Sholat Subuh. Ketika beranjak dari tempat wudlu masuk ke dalam masjid, mendadak keseimbanganku hilang. Tempat itu memang berlumut dan licin sekali. Aku terpeleset, kepalaku membentur tembok. Aku merasa seperti ada hantaman maha berat melanda tubuhku. Mendadak semuanya gelap. Gelap sekali. Hingga aku merasakan sesuatu yang lain. Ya, aku merasa tercerabut dari jasadku pelan-pelan, kemudian semuanya terasa ringan. Aku seperti melayang-layang di udara. Kulihat, orang-orang mulai ramai mengerubungi seonggok jasad, jasadku sendiri. Aku sekarang telah mati. Izrail telah datang menjemputku. Rohku dibawanya berputar-putar, melayang-layang bagai kapas tertiup angin, menuju surga yang kunantikan.

Aku melihat tempat itu. Ya, surga yang selama ini kunantikan. Disana, semuanya terasa berjalan dengan tenang dan damai. Aku melihat Laila, isteriku, tampak bahagia sekali. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Aku membalas lambaian tangannya. Aku juga seperti mengenal baik orang-orang yang wajahnya tampak cerah dan bersinar itu. Mereka adalah muadzin-muadzin pendahuluku. Mereka juga terlihat bahagia menghuni surga. Aku senang sekali, sebentar lagi, aku akan segera bergabung dengan mereka disana.

Tetapi tak seperti yang kuduga, Izrail ternyata hanya melewati surga, tak meninggalkanku di tempat teduh itu. Aku dibawanya terus melayang, hingga ke suatu tempat yang sangat mengerikan. Jurang yang begitu dalam dengan api berkobar menyala-nyala. Berkali-kali kudengar lolongan dan rintihan orang yang disiksa. Sungguh! Aku sangat takut.

“Tempatmu disini. Engkau akan menghuninya sampai beberapa waktu ?”

Aku merinding sekali. Aku tak mau tinggal di tempat ini. Rohku meronta-ronta.

“Mengapa aku ditempatkan disini, padahal aku selalu memuliakan dan beribadah di masjid setiap waktu ?”

“Benar, engkau selalu melaksanakan perintah-perintah tuhan dengan baik, tetapi niatmu keliru. Padahal, segala amal ibadah itu dihitung berdasarkan niatnya. Masih banyak kewajibanmu di dunia yang harus kautunaikan dan kau sebenarnya bisa memetik lebih banyak pahala dari itu semua. Tahukah kau, mengharap mati dan melakukan suatu perbuatan yang meyebabkan mati itu adalah dosa besar.”

Rohku semakin meronta-ronta. Aku tak mau dilemparkan ke dalam api neraka. Aku menangis, memohon kepada Izrail untuk dikembalikan ke dunia, menebus kesalahan-kesalahanku. Tetapi semuanya telah terlambat.

“Untuk sementara waktu, tempatmu di neraka, wahai manusia…”

Rohku dilemparkannya ke dalam neraka. Segala kengerian menyambutku dibawah sana. Aku menjerit panjang. Sontak aku tersadar, ketika semua mata itu memandangku dengan harap-harap cemas. Ruangan yang sepertinya kukenal betul, bukan di neraka. Aku merasa bisa menghirup udara segar. Kulihat anak dan cucuku berkumpul di sekelilingku. Anak bungsuku mendekat, matanya tampak berkabut, kemudian mengelus-elus tanganku.

“Alhamdulillah, Ayah telah sadar”

Aku seperti terbangun dari mimpi buruk. Nafasku tersengal-sengal. Rasa takutku tak juga hilang. Aku merasa banyak makhluk ghaib mengikuti hingga ke kamar ini. Mereka mengintipku dari setiap lubang yang ada dengan mata menyala-nyala menakutkan, siap menyeretku ke tempat mengerikan itu sewaktu-waktu.

Kp, Desember 2010


catatan :

muadzin : orang yang mengumandangkan adzan di masjid

Label:

MERTUA DAN MENANTU

(Dimuat di Minggu Pagi no. 17 Minggu IV Juli 2011)

Hampir setiap pagi, suami isteri itu selalu dongkol dan menahan marah. Betapa tidak, mereka sudah semenjak Subuh tadi sibuk melakukan pekerjaan rumah tangga, menantunya masih meringkuk lelap di kamarnya. Sedang anak lelakinya, suami perempuan manja itu, sudah beberapa jam yang lalu berangkat memutar dagangannya ke toko-toko dan warung-warung di daerah itu. Ya, sudah beberapa hari ini, Handoyo mencoba peruntungan sebagai distributor barang-barang kebutuhan rumah tangga. Ia mengambil barang-barang tersebut di pusat kota dengan harga murah, kemudian mengedarkannya ke berbagai tempat tersebut dengan selisih harga yang lebih mahal.

“Keterlaluan sekali Bu, menantu kita itu, masak sudah jam segini belum juga bangun ?,” Pak Darminto mulai menggerutu.

Lha, gimana lagi Pak, Dia pilihan anakmu. Dari dulu sudah kuperingatkan agar tak Kamu ijinkan dia menikahi perempuan itu. Nyatanya kelakuannya seperti ini, setiap hari bikin mangkel saja,” Bu Darminto menyahut gerutu suaminya, dengan nada tinggi.

“Ah, mengapa Aku yang malah disalahkan. Kamu juga salah Bu, terlalu memanjakan si Han, sehingga tak pernah mau menurut perintah orang tua,” sergah Pak Darminto membela diri.

“Ah, Bapak ini selau begitu, tak mau disalahkan,” isterinya bersungut-sungut.

“Sudahlah Bu, jangan saling menyalahkan. Mungkin memang kita harus lebih bersabar. Kalau kita tegur si Narti, juga serba salah. Ia akan mengadu kepada suaminya, ujung-ujungnya malah kita yang bertengkar dengan anak sendiri. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, menantu kita itu akan mengubah sifat-sifat buruknya,” Pak Darminto terlihat mulai bijak, sedang isterinya tampak masih belum bisa meredam kejengkelannya.

Suami isteri itu kemudian terdiam, mencoba berdamai dengan kedongkolan yang berkecamuk di dada mereka masing-masing. Tiba-tiba pintu kamar anaknya terbuka. Sunarti yang baru bangun tidur, dengan cuek dan mata masih mengantuk keluar kamar, berjalan menuju kamar mandi. Bu Darminto mengelus dada, sedang sang suami memalingkan muka, walau sebenarnya tak bisa dipungkiri, matanya melirik ke tubuh sintal Sunarti. Ya, tentu saja, menantunya itu keluar kamar dengan tubuh yang nyaris terbuka, hanya mengenakan tank top dan celana dalam tipis, terlihat jelas lekuk dan tubuh kuning langsatnya yang mulus.

Bu Darminto makin uring-uringan. Ia memandang suaminya, ada rasa cemburu di hatinya. Suaminya salah tingkah. “Eh Bu, Aku ke sawah saja dulu, matahari sudah makin tinggi.”

Hari merambat siang, dan keadaan seperti itu selalu mengulang hari-hari kemarin dan akan berulang kembali di hari-hari selanjutnya.

***

Handoyo pertama kali bertemu dengan Sunarti di sebuah counter HP. Mereka sama-sama kehabisan pulsa ketika itu. Selanjutnya mereka saling berkenalan, dan bertukar nomor HP. Handoyo merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis manis berbandal sintal kemanja-manjaan itu. Tiap hari ia datangi rumah Sunarti, yang ternyata tidak terlalu jauh dari rumahnya. Seminggu kemudian, di hadapan kedua orang tuanya, ia utarakan keinginannya melamar pujaan hatinya tersebut. Pak dan Bu Darminto tentu saja terkejut, tak pernah terlihat berpacaran dengan seorang perempuanpun, tiba-tiba saja anaknya itu minta dinikahkan. Lebih terkejut lagi, setelah tahu bahwa gadis yang dicintai oleh Handoyo adalah anak dari seseorang yang pernah bersinggungan dengan masa lalu pasangan suami isteri itu.

“Pokoknya Aku tidak setuju, Kamu menikahi gadis itu. Ibu punya firasat ia bukan perempuan baik-baik untukmu,” Bu Darminto mengutarakan ketidaksukaannya. “Lagi pula, Kamu mengenalnya kan baru sebentar, belum tahu banyak hal tentang dia to ?” suaminya menambahkan.

“Setuju atau tidak setuju, Aku tetap akan menikahi Sunarti. Kalau Bapak dan Ibu tidak mau melamarkan, akan kulamar sendiri ia pada orang tuanya,” Handoyo ngotot dengan keinginannya.

Demikianlah, setelah berdebat panjang, Handoyo tak surut langkah dengan keinginannya, akhirnya Pak dan Bu Darminto terpaksa memenuhi keinginan putera bungsunya itu. Apalagi setelah Handoyo mengancam akan meninggalkan rumah, apabila tetap tidak direstui meminang Sunarti. Maka, berlangsunglah kemudian acara lamaran itu. Beberapa hari setelahnya, dengan acara sederhana pula, yang cuma dihadiri kerabat dekat dan tetangga kanan kiri, Handoyo resmi menikahi Sunarti.

Banyak hal sebenarnya mengganjal di hati Pak dan Bu Darminto tentang pernikahan anaknya itu, terutama bagi Bu Darminto. Ya, betapa tidak, ternyata ibu Sunarti, dahulu kala adalah kekasih Pak Darminto. Seperti kasak-kusuk yang terdengar kemudian diantara para tetangga, dulu Pak Darminto dan ibu Sunarti adalah sepasang kekasih yang di mabuk cinta. Tetapi sayang, cinta mereka akhirnya kandas di tengah jalan. Pak Darminto tidak dapat membantah perintah orang tua, bahwa ia telah dijodohkan dengan gadis pilihan orang tuanya, ibunya Handoyo sekarang. Menurut cerita, setelah mengetahui kekasih hatinya itu menikah, ibu Sunarti seperti putus asa berkepanjangan hingga hampir gila. Pihak keluarga akhirnya membawa ibu Sunarti ke Jakarta, ke tempat saudara jauhnya, agar dapat melupakan kegagalan cintanya yang pahit itu.

Demikianlah, lama tak terdengar kabarnya, beberapa tahun yang lalu, ibu Sunarti pulang kembali ke tempat asalnya dengan membawa seorang anak gadis molek yang telah menginjak dewasa, anak kandungnya, yang sungguh mirip dengan dirinya di kala muda. Konon di Jakarta, ia pernah menikah dengan seseorang, tetapi takdir menghendaki bahwa suaminya meninggal akibat suatu penyakit berat. Merasa kesulitan mencari penghasilan di kota besar, akhirnya ibu Sunarti kembali pulang ke kampung halaman.

Cerita itu terdengar pula oleh Handoyo kemudian. Namun tetap tak mengurangi cintanya kepada Sunarti. Ia tetap menyayangi Sunarti, bahkan makin memanjakannya, hingga sering membuat ia harus beradu mulut dengan kedua orang tuanya, terutama dengan ibunya, yang sedari mula memang terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya kepada menantunya itu.

***

“Pak, kamu dengar nggak gunjingan tetangga kiri kanan,” pagi-pagi Bu Darminto sudah kembali berbicara dengan nada keras.

“Gunjingan apa to Bu ?” Pak Darminto menjawab dengan agak acuh.

Ealah Bapak ini, pura-pura nggak tahu saja,” Bu Darminto terlihat mulai sewot. “Itu lho tentang kelakuan menantu ayumu. Dandanannya itu, kayak perek saja. Rambutnya disemir warna-warni, keluar rumah dengan pakaian minim, dan ini sungguh yang membuatku muak, perempuan kok nggak malu kemana-mana merokok klecas-klecis. Apa dia nggak tahu, duit yang ia hamburkan untuk itu semua berasal dari hasil kerja keras suaminya seharian.”

“Lalu, aku harus bagaimana ? Kalau Narti kutegur, yang marah malah si Han. Aku bosan bertengkar terus dengan anak sendiri “

Memang begitulah, suami isteri itu tak tahu harus berbuat apa terhadap menantunya, selain hanya bisa menahan dongkol di dalam hati. Beberapa kali ia menasehati Sunarti agar mengubah kebiasaan buruknya, tetapi tak digubris sama sekali, malah ia sering mengadu macam-macam kepada Handoyo, bahwa ia sering diperlakukan tidak baik oleh mertuanya. Handoyo langsung marah kepada orang tuanya, bila mendengar pengaduan seperti itu. Pak dan Bu Darminto, sekali lagi, hanya bisa mengurut dada, memperpanjang kesabaran.

Mereka sebenarnya merasa kasihan dengan anaknya tersebut. Handoyo adalah pekerja keras, namun selalu luput dari keberuntungan dan nasib baik. Berbagai usaha dilakoni, tak kenal lelah, tetapi hasil yang dituai tak juga memuaskan. Kakak-kakaknya sudah mentas semua, mempunyai rumah sendiri-sendiri. Tinggal dia seorang yang menemani mereka berdua. Kini, sekali kenal perempuan kemudian dijadikan isteri, ternyata tak bisa dikatakan sebagai perempuan baik-baik pula yang ia dapatkan.

***

Dua tahun lebih rumah tangga Handoyo dan Sunarti berjalan, namun belum juga dikarunia anak. Mereka tidak mempunyai masalah dengan kehidupan seksual. Sunarti beberapa beberapa kali dikatakan positip hamil, tetapi entah mengapa janin yang dikandungnya selalu mengalami keguguran.

Suatu hari, Sunarti mengadu kepada suaminya bahwa ia sudah tidak betah tinggal satu rumah dengan mertuanya. Ia merasa tertekan selalu dipandang rendah oleh mereka. Sunarti mengatakan bila kandungannya mengalami keguguran berkali-kali, karena ia berpikir terlalu berat dan tidak bisa bebas melakukan ini itu, juga akibat tekanan mental dari mertuanya. Perempuan itu mengiba kepada suaminya agar mencari rumah kontrakan saja, supaya nanti janin dalam kandungannya bisa diselamatkan.

Akhirnya, Handoyo memutuskan tinggal di rumah kontrakan. Pak dan Bu Darminto tak kuasa menahannya. Ada rasa senang sebenarnya di hati kecil mereka, bisa lepas dari seseorang yang selama ini membuat dongkol dan sebah, namun juga ada rasa tak tega pula, sebab harus membiarkan anak bungsunya tidak bersama mereka lagi.

Tetapi sebetulnya mereka tidak benar-benar jauh dari anak dan menantunya tersebut. Rumah yang dikontrak Handoyo masih satu lingkup dengan daerah itu. Handoyo pun pada siang hari, sesekali mampir ke rumah, mengambil barang dagangan yang memang sebagian masih ia taruh disitu. Terkadang pula, sehabis pulang dari sawah, Pak Handoyo menyempatkan diri menengok rumah kontrakan Handoyo, membawakan makanan atau sekedar menengok saja. Hanya Bu Darminto yang benar-benar tak sudi bertemu dengan menantunya lagi.

Beberapa bulan setelah tinggal di rumah kontrakan, Sunarti kembali positip hamil. Kali ini Handoyo betul-betul menjaganya, takut keguguran lagi. Dan benar, perut Sunarti semakin membesar, tampaknya kehamilan kali ini dapat diselamatkan. Handoyo senang bukan kepalang, ternyata keputusannya tinggal di rumah kontrakan adalah benar. Lelaki muda itu makin giat bekerja, tak kenal lelah ia memasarkan barang dagangannya setiap hari. Ia berharap, mempunyai uang yang cukup untuk biaya persalinan dan membesarkan anaknya nanti.

***

Siang yang garang, matahari benar-benar terik menyengat bumi. Bu Darminto sibuk sendirian di rumah. Suaminya dari pagi sampai tengah hari ini pergi ke sawah dan belum pulang. Entah apa yang membuat hati Bu Darminto tiba-tiba ingat menantunya yang sedang hamil. Perempuan paruh baya itu merasa bersalah, terlalu membenci Sunarti, hanya karena ia adalah anak dari seorang yang dulu pernah begitu lama mengisi hati suaminya.

Bu Darminto ingin menebus kesalahannya selama ini. Bagaimanapun juga Sunarti telah menjadi isteri anaknya, yang kelak akan menjadi ibu pula dari cucu-cucunya. Ia memasak bermacam-acam makanan. Sebelum mengantarkan ransum untuk suaminya ke sawah, ia mampir dulu ke rumah kontrakan Handoyo, memberikan sebagian hasil masakannya itu kepada anak dan menantunya.

Rumah kontrakan Handoyo begitu lengang. Handoyo pasti sedang memutar dagangannya di luar. Bu Darminto bergegas mengetuk pintu depan, tampak ia kerepotan karena membawa beberapa kotak makanan. Mendadak kegembiraannya sirna, berubah menjadi curiga dan amarah begitu melihat sebuah sepeda motor butut tersembunyi di samping rumah. Ya, itu adalah sepeda motor tua yang biasa dipakai suaminya pergi ke sawah, yang letaknya memang agak jauh dari rumahnya.

Sontak ia buka pintu depan yang tidak terkunci, kemudian berlari ke kamar yang cuma satu-satunya, dan mendapati pemandangan yang sungguh membuat bara di dadanya kembali menyala hebat. Di ranjang itu, laki-laki yang puluhan tahun setia ia dampingi sedang bermesraan dengan menantunya yang hamil tua.

Siang yang terik dan udara yang gerah, seperti mengalirkan energi panas ke sekujur tubuh Bu Darminto, naik sampai ke ubun-ubun.

Label:

Senin, 28 Maret 2011

PELAJARAN MENJADI BAHAGIA

(dimuat di Harian Global Medan, Tanggal 26 Maret 2011)


“Jadilah orang yang selalu berbahagia, sebab itu sesuatu yang mahal harganya, melebihi kekayaan apapun” demikian nasehat Bapak yang sering diucapkan kepada anak-anaknya. Hari ini, kata-kata Bapak itu seperti berdengung-dengung kembali di telingaku.

Tadi Subuh, Lik Warso tiba-tiba meneloponku dari Kota S, “Bapakmu kembali sakit, Win. Sebaiknya sesegera mungkin Kamu pulang !”

Aku membodoh-bodohi diriku sendiri, mengapa tidak bertanya lebih lanjut tentang sakitnya Bapak. Mau telepon balik, aku juga ragu. Lik Warso, mulai pikun dan sering kebingungan bila menjawab telepon. Lagi pula ia tidak punya alat komunikasi sendiri. Tentu, tadi pagi ia diantar ke wartel atau dipinjami HP oleh tetangganya.

Bapak memang sering sakit-sakitan. Beberapa bulan terakhir, intensitas sakitnya bertambah padat. Dalam satu minggu, aku bisa tiga kali bolak-balik antara Kota W dan Kota S. Memang jarak tersebut sebenarnya tidaklah terlalu jauh, tetapi pekerjaanku tidak mungkin kutinggalkan begitu saja. Jika kupaksa ngelajo, kondisi badanku juga kurang mendukung. Akhir-akhir ini aku sering kecapaian.

Terakhir kali aku pulang ke Kota S tiga hari lalu. Bapak terlihat lumayan sehat dari biasanya, cuma batuk-batuk kecil saja. Tetapi aku merasa ada perilaku yang aneh pada dirinya. Bapak seperti ingin selalu dekat denganku. Waktu aku pamit kembali ke Kota W, ia juga agak berat melepasku. Mendadak, aku seperti mendapat firasat buruk. Jangan-jangan telepon Lik Warso, hanyalah penghalus bahasa belaka, bahwa Bapak telah……

Ah, kutepis jauh-jauh pikiran buruk itu. Aku segera memacu sepeda motor tuaku menuju stasiun Kota W. Pagi ini, dengan pramex semoga aku lebih cepat sampai ke Kota S.

***

Matahari bersinar cerah, meskipun terlihat agak mendung di langit timur sana. Aku tiba di stasiun pukul 09.10 tepat. Masih banyak waktu, pikirku. Baru saja aku telepon sahabatku yang bekerja di sebuah stasiun radio, kereta api pramex jurusan K-S berhenti di Stasiun Kota W sekitar pukul setengah sepuluhan. Aku memang jarang menggunakan alat transportasi yang satu ini. Aku lebih suka naik bus, sekalian dapat menghapal ruas-ruas jalan yang belum kukenal baik. Hanya karena sering mendengar omongan orang, bahwa naik pramex itu lebih nyaman dan cepat sampai tujuan, hari ini aku mencobanya.

Aku terkejut melihat jadwal kereta yang terpampang di sebelah loket. Pramex terakhir berangkat jam 9.04 tadi.

“Kereta api pramex sudah berangkat ya Mas ?”

“Baru saja meluncur tuh, Mas ?”

Petugas loket karcis itu menjawab sekenanya, tanpa menoleh ke arahku. Dalam hati aku dongkol bukan main. Di saat diburu waktu begini, aku mendapat pelayanan yang kurang mengenakan. Tetapi aku kembali teringat kata-kata Bapak. Sabar dalam keadaan dan situasi apapun adalah salah satu kunci meraih kebahagian. Dan seperti yang kulihat selama ini, Bapak adalah orang paling sabar yang pernah kukenal. Itulah pelajaran pertama dari Bapak tentang bagaimana menjadi manusia yang berbahagia.

“Kalau mau ke Kota S, yang paling duluan kereta api apa ya Mas ?”

“Sebentar lagi kereta api ekonomi L lewat. Masnya bisa naik kereta api itu, pakai tarif sampai Kota M.”

Akhirnya, dengan ongkos yang lumayan murah, aku memutuskan naik kereta api ekonomi tersebut. Setelah interaksi lebih lanjut, lama-lama aku simpati juga dengan petugas loket itu. Ia terlihat lelah, mungkin ia sedang lembur. Padahal ini musim liburan, penumpang kereta api lebih ramai daripada hari biasanya.

Aku teringat peristiwa beberapa tahun silam, ketika aku baru saja lulus kuliah. Ada oknum pegawai perusahaan kereta api mendatangi Bapak, berjanji bisa memasukanku sebagai karyawan asal disediakan uang dengan jumlah nominal yang tidak sedikit. Bapak menolak tawaran itu. Meski sudah menjadi rahasia umum, bahwa praktek kolusi seperti itu jamak terjadi di sekitar kita pada saat penerimaan pegawai negeri ataupun perusahaan pemerintah, beliau tetap tidak terpengaruh. Kalau punya uang sebanyak itu, lebih baik digunakan untuk usaha, dagang atau semacamnya daripada untuk nyogok. Mulanya aku kesal dengan sikap Bapak tersebut. Tetapi lama kelamaan, aku bisa mengerti dan bersyukur dengan pekerjaan-pekerjaan yang kujalani selama ini. Walau dengan gaji yang tidak besar, sepertinya aku lebih nyaman dibandingkan jika aku jadi bekerja di perusahaan kereta api dahulu. Lihatlah petugas loket itu, tampak lelah dan kuyu. Ia bekerja lebih keras dibandingkan diriku. Mungkin ia tidak sempat menikmati gajinya dengan gembira. Selalu terpikir untuk menutup biaya masuk ke perusahaan yang tidak sedikit jumlahnya. Sejenak aku bisa melupakan gundah, tertawa sendiri dalam hati.

Peluit panjang berbunyi, kereta api ekonomi L telah tiba dari barat. Penumpang mulai beranjak dari peron. Aku berbaur dengan kerumunan orang, menggapai kereta api yang mulai langsam. Wajah Bapak tetap menggantung dalam pikirku bersama-sama pelajaran-pelajarannya tentang kebahagiaan.

***

Lelaki paruh baya itu biasa dipanggil Mbah Sarji. Nama aslinya sebenarnya Sarjito. Tetapi sejak muda dahulu, ia memang telah dipanggil dengan embel-embel mbah, sesuatu yang menunjukan kedewasaan berpikir dan cara menyelesaikan masalah yang nuwani dibandingkan dengan kebanyakan orang lainnya. Ya, Mbah Sarji itulah Bapakku. Orang paling santai yang pernah kutemui di muka bumi ini. Lelaki yang selalu menerima keadaan apa adanya dengan penuh rasa syukur. Seorang Bapak dengan tujuh orang anak, yang selalu menasehatkan tentang pentingnya meraih sebuah kebahagiaan.

Aku bersyukur sekali punya orang tua seperti Mbah Sarji. Walau hidup menduda setelah Ibu wafat beberapa tahun yang lampau, ia tidak pernah bertingkah dan mengeluh macam-macam seperti orang tua pada umumnya di kala senja. Bapak tetap tegar dan melakukan aktivitas apa saja untuk mengisi hari-harinya di masa pensiun. Ia tidak pernah mempersoalkan anak-anaknya yang memutuskan berkarya dan membangun rumah tangga sendiri di berbagai kota yang jauh darinya. Ia sudah terbiasa hidup sendiri. Bahkan, ia juga tidak berkeluh kesah apabila di Hari Lebaran, hanya aku seorang yang bisa pulang ke rumah dan sungkem kepadanya.

Bapak selalu terlihat bahagia. Sedikit banyak hal itu membantuku mengurangi beban pikiran, yang akhir-akhir ini begitu tersita dengan beberapa persoalan pelik di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang selama ini aku geluti. Di lingkungan tempat tinggalnya, Bapak sangat dihormati oleh tetangga sekitar karena sikap-sikapnya yang mudah dan mau bergaul dengan siapa saja. Selain itu, disana juga masih ada Lik Warso, saudara jauh sekaligus kawan setia Bapak semenjak muda yang setiap saat dapat kumintai tolong menjaga Bapak atau setidaknya memberitahuku kalau ada apa-apa dengan Bapak. Meskipun Bapak tidak pernah meminta, sebagai anak bungsu yang bermukim paling dekat dengannya, kadang aku merasa amat bersalah tidak bisa menemaninya setiap waktu akhir-akhir ini.

Dulu, Bapak adalah guru sekolah dasar. Sedang Ibu berjualan di pasar untuk membantu menopang ekonomi keluarga. Meski berstatus sebagai seorang pegawai negeri, jika dibandingkan nilai dan kebutuhan waktu itu, gaji Bapak tidaklah seberapa. Apalagi untuk menghidupi tujuh orang anak-anaknya. Berbeda jauh dengan jaman sekarang. Konon gaji pegawai negeri lumayan gede dengan berbagai tunjangan dan kemudahan yang menggiurkan. Untuk masukpun harus bersaing dengan ribuan orang lewat tes yang kadang tak jelas bagaimana penilaiannya. Oleh karena itu, Bapak tidak banyak berharap anak-anaknya sekolah tinggi ataupun kelak seperti dirinya berkarier sebagai aparat pemerintah dalam jangkauan yang lebih luas.

“Silakan kalau Kalian ingin sekolah tinggi, Bapak akan membantu. Tetapi dengan catatan, Kalian harus yakin dengan itu hidup Kalian akan menjadi lebih baik. Juga jangan setengah-tengah. Kalau nanggung, lebih baik Kalian belajar dari pengalaman hidup saja. Insyaallah, dengan keberanian dan kejujuran, hidup Kalian akan lebih bahagia”, demikan petuah Bapak lainnya yang masih kuingat.

Entah karena terpengaruh oleh omongan Bapak atau tidak, yang jelas dari ketujuh anaknya, hanya aku seorang yang merasakan bangku kuliah. Keenam kakakku hanya tamat SMA. Namun demikian, mereka dapat bekerja dan berkiprah baik di masyarakat dengan berbagai profesi. Ada yang menjadi pedagang, petani, wiraswasta dan juga pekerja swasta biasa di ibukota. Meski tidak terlihat keren, pekerjaan saudara-saudaraku tersebut terbilang layak jika dibandingkan dengan pekerjaan kebanyakan orang di kota kelahiranku itu.

Mungkin malah aku sendiri, yang dianggap tidak berhasil menurut pandangan orang-orang. Betapa tidak, lulus kuliah saja hampir sepuluh tahun. Itupun dengan nilai yang pas-pasan. Selama kurun itu, hampir tidak ada prestasi membanggakan yang dapat kuukir. Malah sering dicokok aparat keamanan, dijadikan target operasi. Tidak terhitung pula, aku keluar masuk tahanan polisi. Itu semua berkaitan dengan aktivitasku dalam kelompok mahasiswa yang menurut beberapa pihak terhitung radikal. Beberapa kali aku menjadi koordinator lapangan aksi demonstrasi besar. Pernah pula menggerakan aksi buruh dan tani menuntut hak-haknya yang terabaikan. Aku benar-benar telah merasakan pahit getirnya dunia aktivis mahasiswa.

Selepas kuliah pun, keberuntungan ternyata tidak banyak berpihak padaku. Setelah angin reformasi berhembus, banyak kawan-kawanku seperjuangan yang berhasil menjadi orang penting. Ada yang masuk dalam lingkaran kekuasaan, menjadi pejabat ataupun wakil rakyat. Ada pula yang berkarier sebagai pengacara, pengusaha dan berbagai profesi mentereng lainnya. Sedangkan diriku, bertahun-tahun luntang-lantung tanpa kerjaan. Akhirnya, berlabuh di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang kembali harus bersinggungan dengan kekuasaan. Secara materi, aku juga belum mendapatkan sesuatu yang berarti dari jerih payahku selama ini. Namun jujur, sebenarnya aku bahagia dengan semua yang kulakukan ini.

Bapak tahu sepak terjangku. Namun ia tidak pernah mempersoalkan hal itu. Ia tidak mendukung ataupun melarang semua itu. Dan aku tahu diri, sebisa mungkin namanya tidak tersangkut dengan segala aktivitasku.

“Jika sesuatu itu menurutmu benar, maka lakukanlah. Tetapi setiap perbuatan itu ada resikonya. Berani berbuat, berani pula bertanggung jawab.” lanjut Bapak suatu kali.

Ah, Mbah Sarji. Meskipun hidupmu selalu terlihat enteng, semoga aku bisa memberikan kebahagiaan seperti yang benar-benar tersimpan dalam hati kecilmu.

***

Akhirnya, sampai juga aku di Stasiun J Kota S. Ya, setelah hampir tiga jam terperangkap dalam gerbong kereta api yang panas, berdesakan dengan para pengamen dan pedagang asongan. Terpikir olehku, andai saja aku tadi langsung pakai motor, tentu malah lebih cepat sampai ke tujuan. Kereta api ekonomi ini bergerak terlalu lambat, selalu berhenti di stasiun-stasiun kecil untuk menjejalkan penumpang.

Keluar dari Stasiun J, buru-buru kucegat ojeg yang mangkal di luar stasiun. Perasaanku makin tak enak. Aku ingin segera tahu keadaan Bapak. Rasa bersalah dan rindu yang tak biasa tiba-tiba menyergap dalam diriku. Kuminta tukang ojeg ini memacu motornya secepat mungkin. Aku turun dari ojek, tepat di gang sempit menuju tempat tinggal Bapak.

Siang agak redup, suasana terasa lengang. Entah kemana orang-orang, tak tampak tetangga kiri kanan. Setengah berlari kuhampiri rumah sederhana itu. Pintu dan jendelanya terkunci dan tertutup rapat. Kuketuk pintu pelan-pelan, sambil memanggil nama Bapak. Tak ada tanda-tanda ada orang di dalam rumah. Hatiku makin resah dan kemrungsung.

“Win, pulang juga rupanya Kamu ?!”

Aku kaget. Sosok tua yang badannya sedikit membungkuk itu muncul dari samping rumah. Terbatuk-batuk sambil memantik korek api, menghidupkan rokok kemenyan linting kesukaannya.

“Bapak tidak apa-apa ?”

“Hehe, Kaupikir aku mati ya ? Sebelum melihatmu menikah, Aku tak akan mati.”

Jawaban Bapak yang sekenanya dan terkesan bercanda itu, membuat hatiku berdesir. Walau hidupnya terlihat santai, ternyata Bapak masih memikirkanku yang hampir kepala empat ini belum juga berumah tangga. Ah, seandainya Bapak tahu keadaanku yang sesungguhnya. Sampai kini, aku tak pernah bisa menaruh hati kepada seorang perempuanpun yang ada di sekitarku. Aku mempunyai orientasi seksual yang berbeda dengan lelaki normal pada umumnya.

Mendadak, aku ingin menangis dan mohon ampun kepada Bapak.


Catatan :

- ngelajo : melakukan perjalanan rutin bolak-balik (misal : kerja, sekolah) dalam jarak yang cukup jauh

- nuwani : berlaku lebih dewasa

- kemrungsung : tergesa-gesa

Label:

Minggu, 10 Oktober 2010

MENUNGGU KAWAN

( Dimuat di Lampung Post, Minggu 10 Oktober 2010)

Aku sedang menunggu kawan, sementara itu hujan turun dengan lebatnya. Air bagai dimuntahkan dari langit. Jatuh ke bumi, menerpa atap-atap seng dan benda-benda lainnya, menimbulkan suara gemeretap yang memekakan telinga. Sesekali angin berkesiut kencang, menerbangkan sampah-sampah ringan dan ranting-ranting kering. Banyak pula pepohonan, papan reklame dan tiang-tiang kecil berjatuhan, tersapu gemulai sang angin. Setelah kemarau yang cukup panjang, tampaknya hujan ingin menumpahkan segenap rindunya. Berhari-hari tak jua berhenti. Aku gelandangan tua yang papa, terjebak sendirian di emperan toko ini. Tubuhku basah dan menggigil terkena tempias air hujan.

Sudah berhari-hari aku terdampar disini. Tanpa kawan, tanpa makanan. Perutku melilit-lilit, badanku terasa payah. Tak ada orang melintas, jalanan begitu senyap. Hanya genangan air yang terlihat makin lama, makin melebar dan meninggi. Tak lama lagi pasti akan menyapu tempat ini. Ah, ada yang salah dengan tata kota disini. Setiap musim penghujan, banjir selalu ada dimana-mana.

Kawanku belum juga datang. Ia lelaki muda berwajah bersih dan terlihat suci. Aku belum lama mengenalnya. Baru tadi pagi, ketika hujan mengendurkan curahnya. Diantara rintik gerimis yang lembut ia mendatangiku. Tanpa payung, tanpa mantel hujan. Rintik gerimis seolah memberi ornamen lain di sekelilingnya. Lelaki itu, sahabat gerimis. Tak nampak basah membekas pada tubuh dan pakaiannya.

“Selamat pagi, Pak Tua. Jangan takut, aku kawanmu…”

Ia menyalamiku, kemudian meraih tubuhku lalu menepuk-nepuknya pelan. Aku diam, tak menyahut ucapnya. Aku merasa asing dengan orang-orang. Sudah lama aku merasa bukan manusia lagi. Aku sampah yang menyerupai manusia renta.

“Tunggu sebentar, aku akan membawa makanan dan beberapa kawan untukmu. “

Lelaki itu bergegas pergi, kemudian menghilang di kejauhan. Mula-mula aku tak menggubrisnya. Bertahun-tahun aku mengembara seorang diri. Lengang dan sunyi adalah kawan terbaikku. Tetapi entah mengapa, makin lama aku seperti merindukan kehadirannya. Berharap, ia segara muncul dari kejauhan, lalu menemaniku menggigil kedinginan di emperan ini.

Lelaki itu belum juga datang. Mungkin ia lupa, atau memang hanya main-main semata. Dalam hati, aku berharap tidak seperti itu. Hari mulai gelap, hujan makin menderas. Dingin sekali. Tubuhku makin menggigil. Aku terbatuk-batuk. Ada darah kental keluar dari mulutku.

***

Malam mulai merambat senyap. Aku masih menunggu lelaki muda itu. Untuk kesekian kalinya, aku kembali mengerang. Tubuhku tetap saja menggigil, namun dadaku terasa panas. Batuk keparat ini telah mengikuti hidupku bertahun-tahun. Kadang hanya batuk-batuk kecil biasa, tetapi tak jarang ia begitu menghebat. Seperti malam ini, tubuhku menjadi terguncang-guncang. Perutku yang melilit-lilit, makin sakit tak terperi. Mukaku memerah, mataku menjadi basah. Air liur bercampur darah kembali muncrat diantara batukku.

Seekor tikus got basah memandangku heran di pojok gelap. Mungkin ia iba, mungkin juga sedang mengejekku. Aku tak peduli. Bukankah aku sekarang tak lebih hina dari tikus got itu ?

Dahulu sekali, aku pernah mengalami masa-masa kejayaan. Masa di kala tubuhku masih muda dan kuat. Masa di kala banyak orang memuja dan mengeluk-elukanku. Masa di kala para gadis berlomba-lomba menarik perhatianku, mencoba meraih cintaku. Bukan karena wajahku yang rupawan. Tetapi di kala itu, aku adalah bintang panggung yang cukup terkenal. Sosokku melenggang dari panggung sandiwara, ketoprak, wayang orang hingga merambah layar film. Ah, masa-masa yang sungguh menggairahkan. Ada bahagia bercampur haru mengenangnya. Aku pernah diakui sebagai manusia. Bahkan, aku pernah mendapat penghormatan dan penghargaan sebagai manusia lebih dari yang lainnya.

Aku masih ingat, banyak orang-orang penting di negeri ini melirik dan mendekatiku. Mereka menawarkan persaudaraan dan kemewahan, yang sebenar-benarnya, tak pernah kuinginkan sama sekali. Aku terlalu lugu dan jujur untuk itu semua. Mereka mengajakku bersenang-senang. Mengundangku makan-makan dan tentu saja memintaku berpentas di acara mereka dengan bayaran yang cukup tinggi. Aku menerima semua itu dengan perasaan senang namun biasa saja, tanpa pernah berpikir yang macam-macam. Sampai banyak diantara mereka, mulai membujukku agar ikut dalam kelompok mereka. Kelak, jika aku bersedia, jabatan dan kekuasaan serta harta berlimpah menantiku sebagai imbalannya. Aku berpikir sederhana. Aku tak tahu apa-apa tentang politik. Aku hanya bisa bermain ketoprak dan sandiwara. Aku cuma penghibur semata. Aku menolaknya dengan halus. Mereka tampak kecewa, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.

Dan politik memang benar-benar kejam. Walau sudah berusaha menghindarinya, akhirnya aku terserempet juga. Bukan hanya terserempet, tetapi lebih dari itu : jatuh terjungkal kemudian terlindas olehnya hingga berkeping-keping. Aku yang pernah dipuja-puja, berakhir sebagai gelandangan hina seperti ini.

Ah, hujan semakin lebat saja. Suasana gelap sekali, rupanya listrik kembali padam. Entah apa yang terjadi di negeri ini. Hujan atau tidak hujan, sesuatu yang maha penting di masa kini itu selalu byar pet, seperti tak terurus dengan baik. Aku terbatuk, darah kembali muncrat. Dadaku terasa ngilu. Hatiku seperti teriris.

Di malam yang berhujan dan gelap seperti ini pula, bertahun-tahun silam, aku mulai mengalami titik-titik kehancuran. Orang-orang itu mendatangi rumahku, terus menghujaniku dengan bermacam-macam tuduhan yang tak kumengerti sama sekali. Mereka menyeretku keluar rumah, kemudian menaikkanku ke atas truk. Isteriku menjerit-jerit, kedua anakku yang masih kecil menangis sejadi-jadinya. Aku digelandang ke suatu tempat bersama banyak orang yang juga tak tahu apa kesalahannya.

Sejak itu, aku benar-benar terpisah dengan keluargaku. Hidup dalam siksaan demi siksaan. Berpindah-pindah dari satu penjara ke panjara lainnya. Tubuhku remuk, otakku sekarat. Hingga akhirnya, aku menghirup kembali kebebasan sebagai orang yang berbeda. Tak ada lagi sanak saudara, orang-orang yang yang kukenal, apalagi yang mengenaliku. Aku mengembara dari kota ke kota, menapaki tahun demi tahun dalam keterasingan dan kesendirian sebagai seorang gelandangan. Di mata orang-orang, aku tak lebih dari gelandangan gila yang tiap hari menyusuri lorong-lorong kota tanpa henti, tanpa tujuan. Meski aku sebenarnya waras, bahkan lebih waras dari kebanyakan mereka, kukira.

Ah, kejujuran memang terasa pahit. Bukankah, seorang seniman itu harus jujur dan menuruti hati nurani. Aku tak tahan melihat penderitaan orang kecil. Aku jengah dengan penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan para penguasa. Aku tak tahan untuk berteriak dan protes. Tetapi cuma sebatas itu, sebatas suara dan gerak yang kubingkai dalam wujud sebuah seni pertunjukan. Aku tak punya kekuasaan, tak punya senjata, apalagi anak buah yang sanggup merongrong sebuah kekuasaan. Aku hanya kumpul-kumpul dan menghibur para petani, buruh-buruh pabrik, lonte-lonte jalanan dan mereka-mereka yang terpinggirkan. Aku tak punya maksud lain, kecuali itu.

Mataku berkaca-kaca, tetapi tiada bisa menangis.

Malam semakin larut dan hujan. Aku menelan ludah. Kawan baruku itu belum juga muncul.

***

Kilat membelah langit. Selintas cahayanya menerangi kegelapan. Gelegar halilintar segera susul menyusul. Entah mengapa, aku merasa suasana begitu mencekam. Ada perasaan takut mengaliri perasaanku. Ah, bukankah aku sudah lama kebal dari rasa takut. Lagi pula siapa yang akan bermain-main dengan ketakutanku. Bahkan, setan paling mengerikan pun pasti enggan menggoda dan mempermainkanku.

Hmm, tetapi kali ini rasanya lain. Aku takut sekali. Aku takut sendiran di emperan ini. Aku merindukan kawan, entah siapapun itu. Lelaki muda itu tak datang-datang. Kurasa, telah lewat tengah malam. Sepi sekali.

Pada malam-malam biasa, terutama malam Minggu, di sepanjang jalan ini selalu ramai oleh pasangan muda yang berasyik masyuk. Mereka bersembunyi di keremangan. Aku sering melihat mereka beradu mulut sambil mendesah-desah. Tak jarang mereka melakukan hubungan intim, selayaknya suami isteri tanpa malu-malu. Mereka seperti menihilkan keberadaanku. Oh, sudah sedemikian bobrokkah akhlak anak-anak muda zaman sekarang ?

Jika melihat anak-anak muda itu, aku jadi teringat anak-anakku. Tentu, mereka sudah besar sekarang. Jauh lebih besar dari anak-anak muda itu. Dimanakah mereka kini ? Waktu aku digelandang pergi dulu, mereka masih kecil-kecil. Si sulung kelas tiga SD, sedang si bungsu belum sekolah. Mereka adalah kebanggaanku, sepasang anak laki-laki dan perempuan yang sedang nakal-nakalnya. Kadang, aku sering dibuat jengkel oleh ulah mereka, minta macam-macam mainan kemudian baru berselang beberapa hari sudah dirusak atau dibuang bagai sampah yang tak bernilai. Aku sering marah-marah kepada mereka jika kondisiku sedang capai dan emosiku tidak stabil. Untunglah ada Laila, isteriku yang cantik dan penyabar. Dia adalah perempuan sempurna, anugerah terindah yang pernah kumiliki. Oh, Laila, isteriku. Bagaimana kehidupanmu dan anak-anak setelah aku tak berada disisimu ? Apakah kamu terlunta-lunta juga ? Atau malah kini engkau telah diperisteri laki-laki lain yang sanggup menghidupimu dan merawat anak-anak kita ? Laila, jika itu terjadi, aku tak akan menyalahkanmu….

Air mataku menetes. Baru kali ini, aku merasa takut sendirian. Baru kali ini pula, aku benar-benar merasa kehilangan, padahal sejatinya sudah bertahun-tahun aku kehilangan banyak hal. Aku merindukan Laila dan anak-anakku. Aku merindukan sahabat-sahabat dan masa laluku yang penuh kehangatan.

Ah, mungkin sebentar lagi fajar menjelang. Hujan disertai halilintar, sepertinya mulai mereda surut. Batukku perlahan juga mulai menghilang. Lelaki muda itu pasti tak jadi datang. Tiba-tiba, mataku ingin mengatup, melupakan banyak hal. Aku ingin tidur dengan santai dan tenang.

***

Samar, aku terbangun. Di sekelilingku, terang mulai menjalar. Pagi bergegas memulai hari. Udara membawa bau tanah yang segar, setelah hujan deras semalam. Aku mengusap-usap mata. Walau cuma sesaat, aku merasa tidurku nyenyak sekali. Tubuhku terasa enteng dan nyaman.

Di kejauhan, kulihat beberapa orang bergerak ke arahku. Semakin lama, semakin mendekat. Aku mengenali lelaki yang berjalan paling depan. Ya, dia lelaki muda berwajah suci itu. Rupanya dia menepati janjinya, menemuiku dengan mambawa beberapa kawan. Wajahnya tampak bersinar, memancarkan cahaya kedamaian, keagungan dan kemuliaan. Pun beberapa orang yang mengikuti di belakangnya. Mereka tersenyum menghampiriku.

“Pak Tua, aku Izrail. Ini beberapa kawan yang kujanjikan untukmu. Kami akan menjemputmu menuju rumah yang pasti sangat kauidamkan.”

Aku merasa bahagia sekali. Mendadak, aku seperti mengenal baik beberapa nama kawan baru yang menjemputku itu. Mereka adalah orang-orang hebat. Ada Fuad Muhammad Syafruddin, Baharudin Lopa, Munir, Rendra, Mbah Surip, dan juga yang sangat aku muliakan :Gus Dur. Sedang yang perempuan itu, ya, dia adalah si pemberani itu, Marsinah.

Aih, aku merasakan kedamaian sampai ke sukmaku….


Kp, awal Februari 2010

Label:

Minggu, 08 Agustus 2010

TUTA TAKUT PULANG KE RUMAH

( dimuat di Harian Global Medan, 7 Agustus 2010 )

Tuta takut pulang ke rumah. Gadis cilik itu terpaku di mulut gang sempit menuju rumahnya. Hari merambat petang, lampu-lampu kota mulai menyala. Di jalan besar, terlihat orang-orang bergegas dengan kendaraannya. Ada yang baru pulang kerja. Ada pula yang mulai keluar rumah, menikmati suasana malam lebih awal. Ia sudah membayangkan ibunya akan marah besar kepadanya. Tanpa memberitahu terlebih dahulu, ia ngelayap sampai sesore ini.

Hari ini, tak seperti biasanya, sekolah Tuta pulang lebih awal. Bapak dan ibu guru mengadakan rapat membahas ulangan umum yang akan dilaksanakan beberapa minggu lagi. Menurut jadwal, hari ini sebenarnya juga ada kegiatan ekstrakurikuler drumband yang diikutinya. Karena rapat tersebut, para guru memutuskan kegiatan drumband ditiadakan. Tuta senang sekali. Ia bisa terbebas dari banyak mata pelajaran yang membosankan. Dan tentu saja, kegiatan drumband yang sungguh-sungguh terpaksa ia ikuti, hanya karena memenuhi keinginan sang ibu semata.

Ia teringat kata-kata ibunya tadi pagi, “Tuta, hari ini kamu naik bus saja. Ibu tak bisa mengantarmu. Motornya sedang dipakai bapakmu jaga malam .”

Tuta seperti tak menghiraukan omongan ibunya. Ia asyik membenahi dandanannya di depan cermin. Setiap pagi, ibunya selalu mengumbar kata-kata yang membuat gaduh suasana. Apalagi jika bapaknya jaga malam dan pulangnya agak siang seperti sekarang. Ibunya sering marah-marah yang tak jelas juntrungannya.

Redondo, adik lelakinya yang baru berumur tiga tahun, tiba-tiba merengek minta sesuatu. Suasana bertambah gaduh. Tuta ingin sekali menyumpal telinganya dan tak hirau dengan itu semua.

”Hari ini, kamu kan latihan drumband. Nanti langsung saja, nggak usah pulang dulu. Biar lebih irit.”

Ibunya kemudian menjejalkan beberapa lembar uang ribuan ke dalam saku bajunya. Tuta tak bergeming. “Hpnya jangan dimatikan. Nanti sewaktu-waktu, Ibu bisa ngecek kamu. “

Tuta kemudian ngeloyor pergi, tanpa menyalami tangan ibunya terlebih dahulu. Sang ibu mengumpat, “Dasar, anak badung !”

Begitulah, Tuta memang sebal sekali dengan ibunya. Ia merasa setiap hari selalu menjadi sasaran kemarahan ibunya. Apa saja yang dilakukannya, selalu tidak ada yang benar di mata sang ibu. Hampir dipastikan, setiap hari ibu dan bapaknya selalu bertengkar hebat. Entah meributkan apa, Tuta tak benar-benar tahu. Biasanya, hal-hal sepele pun bisa menjadi sumber pertengkaran mereka. Dan pada akhirnya, ialah yang menjadi bulan-bulanan kemarahan mereka itu. Tuta menjadi tidak betah tinggal di rumah.

Apalagi setelah Redondo lahir. Ia merasa diabaikan oleh kedua orang tuanya. Mereka seperti lebih menyayangi adiknya itu. Memang, dulu Bapak Tuta berharap anak pertamanya adalah seorang laki-laki. Bapak Tuta sangat menggilai sepakbola. Di tempat kerjanya, kalau ada pertandingan sepakbola antar karyawan atau dengan perusaahaan lain, ia selalu menjadi bintangnya. Ia berharap hobinya itu menurun pula pada anaknya nanti, yang tentu saja harus berkelamin laki-laki. Begitu tahu, anak pertamanya adalah perempuan, ia agak kecewa. Namun begitu, ia tetap menamai anaknya dengan mengacu pada nama bintang sepakbola asal Argentina yang menjadi idolanya, Ristuta Putri Maheswari. Pun ketika anak keduanya terlahir laki-laki, ia beri nama Redondo Putra Maheswara.

Orang tua Tuta belum lama tinggal di perkampungan itu. Sebelumnya, mereka mengontrak rumah yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah yang mereka tempati sekarang. Memang demikianlah, hampir setiap tahun, kehidupan keluarga itu selalu berpindah-pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Sebenarnya, kalau mau, kakek dan nenek Tuta ( orang tua bapaknya Tuta ) sering meminta mereka untuk tinggal bersama di rumahnya yang cukup besar di pinggiran kota. Tetapi ibu Tuta selalu menolak mentah-mentah. Kelihatannya, dari dulu memang tidak ada kecocokan antara ibu Tuta dengan mertuanya, khususnya dengan sang ibu mertua.

Keluarga orang tua Tuta dapat digolongkan sebagai keluarga muda. Usia bapak dan ibu Tuta masih dalam kisaran tigapuluh tahunan. Maka, tidak mengherankan jika sering terjadi pergolakan di dalamnya. Umum terlihat di beberapa keluarga muda lainnya yang selalu terbelit masalah-masalah pelik di masa awal kehidupan rumah tangga seperti keuangan, anak-anak yang sulit diatur dan semacamnya. Bapak Tuta bekerja sebagai satpam toko yang gajinya tidak seberapa. Sedang ibu Tuta, setelah menikah, mengundurkan diri dari pekerjaannya semula. Ia sekarang hanyalah ibu rumah tangga biasa yang sesekali ikut membantu tetangganya yang membuka usaha katering.

Kalau dilihat dari luar, orang tua Tuta adalah pasangan yang ideal. Yang laki-laki, orangnya tinggi, gagah dan juga tampan. Serasi sekali dengan yang perempuan, badannya tinggi semampai, cantik dan berkulit kuning langsat pula. Sangat cantik sekali. Kadang Tuta heran dengan dirinya. Mengapa ia berbeda sekali dengan kedua orang tuanya. Tuta merasa dirinya tidak cantik. Badannya gendut dan kulitnya kehitam-hitaman. Sempat terlintas dalam pikirannya bahwa ia bukan anak kandung ibunya. Ia hanyalah anak pungut atau anak terlantar yang diangkat anak oleh bapak dan ibunya. Tak mengherankan, setiap hari ia selalu dimaki-maki ibunya. Membayangkan hal itu, air mata Tuta menetes. Ia sering menangis sesenggukan seorang diri di dalam kamar.

Tuta juga sering mendengar cerita orang-orang di sekitarnya tentang masa lalu orang tuanya. Dari berbagai cerita itu, ia berkesimpulan bahwa bapaknya sebenarnya berasal dari keluarga yang berada, sedang ibunya adalah wanita aktif dan pintar yang dulu sangat dikagumi orang-orang di sekelilingnya. Hanya nasib baiklah yang tidak berpihak kepada keduanya hingga membina rumah tangga dalam kehidupan yang kurang berkecukupan seperti sekarang ini.

Beginilah cerita yang sering didengar Tuta itu. Bapak dan ibunya dulu bertemu dan saling jatuh cinta ketika keduanya bekerja dalam satu atap di sebuah supermarket besar di kota ini. Bapaknya adalah satpam supermarket itu, seperti halnya sekarang. Sedang ibunya adalah seorang SPG (Sales Promotion Girl) yang ditempatkan disana. Mereka kemudian menjalin hubungan cinta, walau sebenarnya orang tua dari pihak bapaknya Tuta kurang merestuinya. Ya, keluarga bapak Tuta adalah keluarga yang lumayan berada. Saudara-saudara bapak Tuta sudah menjadi orang penting semua. Bapak Tuta seoranglah yang tidak seberuntung mereka. Walaupun kuliah lumayan tinggi, tetapi hanya jadi satpam toko biasa. Orang tua bapaknya Tuta sebenarnya berharap anaknya itu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan nantinya memperoleh isteri yang sepadan pula dengan dirinya. Tetapi begitulah, keinginan orang tua tidak selalu selaras dengan kemauan anak. Akhirnya, pernikahan itu berlangsung juga dan dengan terpaksa mereka merestuinya.

Kalau mau jujur, demikian bisik orang-orang yang sering didengar Tuta, bapaknya Tuta bisa memperoleh isteri yang cantik seperti ibunya Tuta sesungguhnya adalah sebuah karunia yang luar biasa. Walau berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, ibu Tuta dulunya adalah anak yang pintar dan menjadi bintang sekolah. Selain pintar dalam berbagai mata pelajaran, ia juga mempunyai banyak kelebihan dibanding anak lain seumurannya. Ibu Tuta pandai menari dan menyanyi. Dan ini, yang selalu dibanggakannya selama ini : ia bertahun-tahun, sejak SD sampai SMA selalu menjadi mayoret atau pemimpin drumband di sekolahnya. Ia adalah bintangnya, sang primadona di kelompok drumband tersebut. Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang tinggi semampai disertai dengan keluwesannya berperan sebagai mayoret, menjadikan ia selalu menjadi buah bibir banyak orang kala itu. Mendengar cerita itu, Tuta jadi minder. Ia seperti berada dalam bayang-bayang ibunya yang tak mungkin bakal mampu disamainya.

Tuta masih ingat kejadian beberapa bulan yang lalu. Kejadian yang membuat dirinya malu di depan para guru dan teman-temannya. Waktu itu adalah awal pembentukan grup drumband baru di sekolahnya. Tuta, yang baru kelas 3 SD dan bertubuh tidak terlalu tinggi, hanya kebagian sebagai pembawa bendera saja. Ibu Tuta marah-marah, tidak terima mengetahui hal tersebut. Ia protes kepada guru dan pelatih drumbandnya.

“Bagaimana ini, masa anak saya cuma jadi pembawa bendera saja. Apa Bapak nggak tahu ibunya ini pernah menjadi mayoret hebat !?”

“Tapi ini sudah sesuai kesepakatan, Bu. Anak ibu kan baru awal-awal ikut kegiatan ini. “

“Ah, pokoknya saya tidak terima. Anak saya harus pegang peranan penting dalam regu drumband ini !”

Ibu Tuta terus nyerocos tak berkesudahan. Para guru sampai kewalahan. Akhirnya ditemukan penyelesaian, Tuta sekarang memegang salah satu alat musik yang ada. Ibu Tuta sebenarnya tetap berkeinginan anaknya tersebut menjadi mayoret seperti dirinya dulu. Setelah lama sekali mendapat penjelasan, barulah ia menerima jalan tengah itu.

Demikianlah, Tuta sebenarnya malas ikut kegiatan drumband ini. Bukan hanya karena ia memang tidak tertarik, tetapi teman-temannya terlihat menjadi lain sejak kejadian itu. Mereka seperti selalu menggunjing dirinya di belakang. Ada yang bilang, para guru dan pelatih drumband tidak adil. Ada pula yang bisik-bisik, mereka takut pada Ibu Tuta yang galak sehingga Tuta dapat masuk ke dalam kelompok drumband ini, padahal ia tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Dan ini yang sangat menyakitkan hati Tuta, mereka selalu membanding-bandingkan dirinya dengan sang ibu. Para guru pun seperti menjaga jarak dan tak banyak berkata kepadanya sejak peristiwa itu.

Maka, alangkah senangnya hati Tuta hari ini, begitu tahu kegiatan drumband ditiadakan. Renata, teman akrabnya satu bangku, mengajaknya bermain ke rumahnya. Tuta seperti bisa melupakan semua hal yang mendongkolkan hatinya selama ini. Ternyata, orang tua Renata ramah dan baik kepadanya. Kehidupan mereka juga tampak bahagia dan santai sekali. Ah, sungguh menyenangkan tinggal di lingkungan keluarga seperti ini. Tuta betah berada di rumah Renata. Tuta dan Renata bercanda dan bermain hingga lupa waktu. Hp Tuta yang yang sedari tadi bergetar-getar di dalam tas, karena memang ia matikan deringnya, tak ia ketahui sama sekali. Tuta benar-benar tak ingat pesan ibunya tadi pagi.

Hari beranjak sore, dan Tuta segara tergeragap. Ia menjadi bingung dan wajahnya pucat pasi setelah menengok hpnya di dalam tas, begitu banyak panggilan tak terjawab dari ibunya. Juga sms-sms yang menanyakan dan mengkhawatirkan dirinya. Ini bakal menjadi malam terburuk dalam hidupnya. Sudah membayang di pikiran, murka besar dari sang ibu. Tuta takut sekali pulang ke rumah.

Tuta kemudian minta ijin pulang kepada keluarga Renata, lalu mencegat bus dengan tergesa dan perasaan kacau hingga akhirnya terpaku di mulut gang sempit menuju rumahnya ini.

Hari benar-benar telah malam. Angkringan di seberang jalan sudah mulai ramai. Sesekali orang yang mengenal Tuta, bertanya basa-basi kepadanya.

”Sudah malam kok masih pakai seragam sekolah, keluyuran kemana Ta ?”

Tuta tak peduli. Perasaannya sedang terombang-ambing, pulang ke rumah atau entah akan pergi ke mana.

***

Sementara itu, masuk jauh ke dalam gang sempit tersebut, di sebuah rumah kontrakan yang terlihat awut-awutan, seorang ibu sedang cemas. Ia menunggu anaknya yang sampai sesore itu belum juga pulang. Di gendongannya, anaknya yang lain yang masih kecil, meraung-raung tiada henti. Sementara, dari dalam rumah, keluar sang suami dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan. Tampaknya lelaki itu baru bangun tidur.

“Gimana ni mas ? Si Tuta kok belum pulang. Kutelepon juga tidak diangkat ?”

“Ah, kamu itu. Ngurus anak nggak becus. Aku capek, semalaman tidak tidur.”

“Eh, jadi kamu menyalahkan aku. Dikira mengurus anak itu gampang ??”

“Ahhh…..”

Suami isteri itu terus beradu mulut tak karuan, hingga akhirnya tersadar : hari telah menginjak malam dan anak perempuan mereka tak jua terlihat batang hidungnya.

Ya, semula Ibu Tuta ingin marah kepada anaknya itu. Kalau Tuta sampai di rumah nanti, ia sudah siap mendampratnya habis-habisan. Pihak sekolah yang dihubunginya mengatakan murid-murid dipulangkan lebih awal dan Tuta juga sudah pulang seperti anak-anak yang lain. Ibu Tuta semakin naik pitam. Ia menduga Tuta keluyuran bersama teman-teman sekolahnya. Entah ke mall atau ke warnet yang banyak bertebaran di kota ini.

Tetapi semakin mendekati malam, Tuta tak kunjung pulang, kemarahannya berubah menjadi kekhawatiran. Ia teringat cerita tetangganya tentang penculikan anak-anak di bawah umur yang sedang marak terjadi. Jangan-jangan Tuta kena pikat sindikat penculik anak dibawah umur itu. Tuta dibawa pergi, jauh sekali dari kota itu kemudian disekap di suatu tempat lalu berakhir di tempat-tempat hiburan malam seperti yang sering ia lihat di berita televisi. Ibu muda itu cemas sekali. Suaminyapun tak kalah cemas dengan dirinya.

“Sebaiknya kita lapor polisi saja, Mas ! “

“ Apa tidak lebih baik kita tanyakan dulu di rumah teman-temannya. Mungkin ia hanya main saja ?!”

“Ah, terserah kaulah, yang penting cepat kau cari dia !”

Malam itu terjadi kehebohan di perkampungan padat itu. Tuta hilang, Tuta diculik. Bapak Tuta dibantu beberapa tetangga, akhirnya mencari gadis cilik itu. Bertanya kesana kemari dan juga lapor ke kantor polisi.

Di rumah kontrakan, Ibu Tuta menangis. Ia merasa terlalu keras mendidik Tuta. Walau sebenarnya itu semua dilakukan semata-mata kasih sayangnya pada anaknya tersebut. Ia ingin kelak Tuta menjadi orang yang berhasil, tidak seperti dirinya. Namun kini ia benar-benar menyesal dan merasa bersalah kepada anak perempuannya itu.

Ibu muda itu teringat, betapa dulu dengan menggendong Tuta yang masih bayi mungil, ia tinggalkan rumah mertuanya dengan air mata bercucuran di pipi. Suaminya memegangi tubuhnya erat-erat, memintanya agar tidak minggat dari rumah. Ya, sore itu ia bertengkar hebat dengan ibu mertuanya. Kini, sore ini, airmata itu kembali berlelehan di pipi. Anak yang ia gendong dulu, pergi entah kemana.

***

Malam itu, dalam ketakutan dan kebimbangan, gadis cilik itu memutuskan berbalik arah meninggalkan gang sempit yang menuju rumahnya. Sementara tak jauh dari situ, di perempatan jalan besar, anak-anak yang seusia dengannya sedang bertarung melawan kerasnya hidup. Diantara kendaraan yang berhenti saat lampu merah, mereka memainkan kecrekan dan bernyayi ala kadarnya demi sereceh dua receh rupiah. Di sudut yang lain, tampak kawanan mereka sedang melayang terbawa mimpi mencium bau aica aibon yang membumbungkan angan mereka. Entah kemana, mungkin menuju surga.

Tuta berjalan gontai sepanjang trotoar. Ia tak sadar, betapa mungkin ia akan terdampar di perempatan jalan seperti anak-anak itu. Dunia jalanan begitu liar dan kejam. Beberapa pasang mata telah mengintainya, siap menerkamnya sewaktu-waktu. Entah apa yang akan terjadi dengan dirinya kelak, jika ketakutannya pada sang ibu, benar-benar melupakannya pada gang sempit menuju rumahnya. Padahal, sepanjang malam itu seorang ibu tiada henti menangis dan memohon kepada tuhan, agar anak perempuan yang dicintainya kembali pulang ke pangkuannya.

Yogyakarta, Februari 2010

Label: