Sabtu, 2009 Mei 09

RAHASIA BAPAK

Pagi ini, tak seperti biasanya bapak mendekatiku dan berusaha akrab. Sudah beberapa tahun hubungan kami mendingin. Walau bernaung di bawah atap yang sama, tegur sapa kami lakukan seperlunya saja. Bapak sudah pensiun dari instansi pemerintah tempat ia mengabdikan diri selama ini. Aktivitasnya diisi dengan tidur, jalan-jalan, terkadang merawat kebun di belakang rumah dan yang tak pernah ia tinggalkan : melamun di serambi depan rumah sambil mendengarkan lagu-lagu lawas kesukaannya. Sebuah tape recorder tua yang mulai bersuara kemresek selalu setia menemani. Konon, barang itu ia beli bersama ibu di kala muda. Mereka mengikat jalinan cinta berawal dari kesukaan yang sama yakni mendengarkan lagu-lagu lewat radio. Tentang kisah cinta mereka lebih lanjut, aku kurang tahu pasti. Mungkin layaknya roman picisan remaja zaman sekarang tetapi dalam era dan suasana yang berbeda. Tak pernah aku pikirkan !

“Wan…kamu sibuk tidak hari ini ? Antarkan aku ke ibumu ! “ katanya kemudian.

“Ah, aku banyak tugas hari ini …” jawabku sekenanya.

“Aku rindu ibumu Wan. Kalau kau ada waktu, tolong antarkan bapak ke ibumu !”

“ Memangnya mau apa bapak ke tempat ibu ? Membuat ibu makin menderita ?”

Aku segera menstater motor kemudian pergi meninggalkan bapak yang masih menatapku dengan penuh pinta dan harap. Sesaat kulirik, wajah tuanya tampak memelas dan airmukanya terlihat jelas

***

Banyak orang menganggap keluarga kami adalah keluarga yang sukses. Tetapi kami menganggapnya biasa-biasa saja. Sebuah keluarga yang tidak terlalu besar dan dapat digolongkan dalam skala menengah. Bapak adalah seorang pegawai pemerintah daerah yang mempunyai jabatan cukup terpandang. Ibu adalah aktivis perempuan di partai yang pernah sangat berkuasa di era orde baru dan sudah beberapa periode ini duduk di dewan perwakilan rakyat daerah. Tiga orang anaknya, aku yang paling bungsu, juga mempunyai prestasi lumayan baik di mata warga sekitar. Kedua orang kakakku sudah berkeluarga dan tinggal terpisah, sedang aku masih setengah jalan kuliah. Mas Herman kakakku tertua berkarier sebagai pegawai negeri seperti bapak tetapi di lain daerah meski masih dalam satu propinsi. Mbak Ratih, kakakku nomor dua, seperti cita-citanya sejak kecil, menjadi guru di sebuah sekolah menengah atas. Ia bersuamikan seorang insinyur pertambangan dengan gaji yang lumayan tinggi walau harus kerja di luar pulau dengan durasi kerja setengah bulan di pertambangan setengah bulan berikutnya off. Dilihat dari luar, bukankah ini yang dinamakan keluarga sukses itu ?

Sesuatu yang terlihat ideal dari luar belum tentu terasa nyaman pula di dalamnya. Kami, anak-anaknya, merasakan hal itu. Tetapi nasehat alamarhum kakek amat membekas dihati kami : jagalah kehormatan keluarga, jangan menceritakan aib sendiri kepada orang lain. Biarlah itu menjadi rahasia keluarga. Begitulah, kami selalu menyimpan perasaan hati masing-masing. Tidak pernah protes ini itu, apalagi berkeluh kesah pada orang lain tentang masalah keluarga. Kami ingin mencetak prestasi gemilang untuk menutupi kekurangan keluarga ini. Yang terpenting, di mata umum keluarga kami tetaplah terhormat dan menjadi panutan.

Sebenarnya semua keruwetan masalah ini berawal dari keinginan ibu untuk aktif di luar rumah, salah satunya adalah ikut bergabung dalam organisasi perempuan sebuah partai besar kala itu. Bapak yang selalu lemah jika berhadapan dengan ibu, mungkin karena saking cintanya, tanpa banyak pertimbangan akhirnya mengabulkan. Ibu yang semula hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa akhirnya mulai berkecimpung di organisasi tersebut. Maka sejak saat itu, ibu mulai jarang berada di rumah menemani kami, anak-anaknya. Kegiatannya banyak diluar rumah. Entah itu pelatihan, rapat konsolidasi, bakti sosial atau kegiatan-kegiatan lain semacamnya, tak pernah kami ketahui secara pasti. Dan yang menjadi korban adalah anak-anaknya, terutama aku yang masih kecil. Hari-hariku banyak dihabiskan bersama rewang yang mulai didatangkan oleh bapak. Hanya sesekali ibu menanyakan kabar dan keadaanku di rumah. Untunglah, disela-sela kerjanya sebagai pegawai negeri yang agak nyantai, bapak bisa meluangkan waktunya untuk kami. Mengganti kasih sayang ibu yang direnggut kegilaannya berorganisasi.

Demikianlah, hari ke hari ibu semakin sering meninggalkan kami dan bapak kemudian seolah-olah menjadi bapak rumah tangga. Mengantarkan aku ke sekolah sebelum pergi ke kantor. Menemani belajar anak-anaknya. Terkadang malah memasak dan mencucikan pakaian jika rewang kami tidak datang. Anak-anaknya, terutama aku menjadi lebih dekat kepada bapak daripada ibu. Bapak menjadi tempat mengadu bila ada masalah. Bapak pula yang selalu menasehati kami agar belajar tekun supaya kelak menjadi orang yang berhasil. Pendek kata, bapak adalah orang tua jempol bagi kami.

Karier ibu di luar rumah semakin menjulang. Ibu juga kuliah lagi untuk mengejar prestise dan posisi bagus di organisasi. Jabatan pentingpun tak lama kemudian berhasil diraih. Karena posisinya yang strategis ia semakin diperhitungkan di partai politik tempat organisasi itu bernaung. Tak lama kemudian ibu pun melenggang dengan mulus sebagai anggota dewan tingkat daerah. Karena keterampilan bahasa dan kulewesannya bergaul, ibu bisa bertahan cukup lama disitu meski partai politiknya mengalami tekanan hebat di awal-awal era reformasi. Demikianlah, bapak semakin tenggelam dibawah bayang-bayang ibu.

Di dalam rumah ibu juga makin berkuasa. Ia akan marah-marah jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati. Segala keputusan berada di tangannya. Bapak yang seharusnya menjadi kepala rumah tangga ternyata tidak bisa berbuat apa-apa jika berhadapan dengan ibu. Ibu yang keras dan bapak yang lunak, berkah atau bencana aku tidak tahu. Yang jelas, apabila bapak tidak mempunyai kesabaran yang luar biasa, aku yakin biduk rumah tangga ini sudah lama hancur. Tetapi apalah artinya sebuah bangunan rumah tangga bila di dalam penghuninya merasa panas dan tidak nyaman. Ada bara terpendam yang sewaktu-waktu tanpa diduga bakal membakar rumah ini.

Sebenarnya aku tahu kalau ibu juga sangat mencintai bapak. Organisasi dan pergaulan lah yang merubah perangai ibu menjadi seperti itu. Aku sering mencuri-curi dengar bila ibu dan kawan-kawannya satu organisasi ngobrol di ruang depan. Mereka selalu mempersoalkan masalah kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan. Bicara mereka berapi-api dan selalu ingin menyerang ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan di negeri ini. Dan yang sering menjadi sasaran adalah kaum laki-laki sebagai lawan jenisnya. Laki-laki yang seharusnya menjadi mitra seolah-olah malah menjadi musuh bagi mereka. Aku yang masih kecil kadang merasa ngeri mendengar pembicaraan mereka. Ah, harus seperti itukah emansipasi ?

Ibu dan bapak memang artis sandiwara yang hebat. Di luar rumah mereka menampakkan keharmonisan yang luar biasa. Pada acara-acara tertentu, seperti menghadiri sebuah undangan ataupun hajatan keluarga terkadang mereka datang berdua. Menunjukkan kepada dunia luar, inilah keluarga yang pantas menjadi teladan itu. Tetapi sesampai di rumah, ibu kembali berkuasa dan bapak seperti biasa selalu menurut perintah dan kemauan ibu.

Ibu sekarang telah mampu membeli rumah dan mobil sendiri dari hasil keringatnya sebagai anggota dewan. Baru aku ketahui juga bahwa barang-barang mewah yang mulai memenuhi rumah ini dibeli atau hutang atas nama ibu. Sedang bapak adalah tipikal orang yang sederhana. Ia tidak neko-neko sebagai pegawai negeri apalagi korupsi. Gajinya mungkin hanya terserap habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tak pernah kudengar bapak bermimpi ingin memiliki ini itu. Ia sering berpesan kepada kami, anak-anaknya, apabila membutuhkan sesuatu untuk keperluan studi jangan sungkan-sungkan untuk meminta kepadanya.

Begitulah, dari hari ke hari aku makin sayang kepada bapak. Sampai pada suatu hari terjadilah peristiwa itu. Peristiwa yang lambat laun mulai mengubah perasaan sekaligus menggerus kepercayaan kami kepada bapak. Bapak mendapat surat panggilan dari kepolisian. Ia terseret kasus korupsi yang melanda beberapa pejabat penting di lingkungan instansinya. Walau hanya diperiksa sebagai saksi, tetapi hal tersebut sedikit banyak membuat kami, anak-anaknya merasa shock. Kepercayan kami kepada bapak menjadi goyah. Konon menurut kabar burung, bapak sebenarnya terlibat dalam kasus itu tetapi dapat lolos karena mendapat jaminan dari kekuasaan tertentu. Mungkin ibu mengambil peran dalam hal ini. Aku sering melihat ibu marah dan memaki-maki bapak jika menyinggung masalah tersebut. Walau berangsur-angsur suasana kembali pulih, tetapi mulai saat itu tingkat kepercayaan kami kepada bapak terus berkurang. Kami curiga, bapak yang pendiam ternyata menyimpan banyak rahasia yang tak kami ketahui.

Dan benarlah, hari-hari berikutnya borok bapak mulai kelihatan. Mulanya cuma kabar burung biasa kemudian berkembang menjadi berita besar di lingkungan kami. Bapak diisukan sering terlihat jalan berdua dengan beberapa perempuan. Kami awalnya tidak begitu menanggapinya. Ibupun seakan cuek saja. Sedang bapak, tetap begitu, selalu kelihatan lugu dan tidak berdosa. Seolah tidak terjadi apa-apa, apalagi menyangkut gosip miring tentang dirinya.

Hingga saat perempuan muda itu datang ke rumah kami. Menanyakan dan meminta pertanggungjawaban bapak. Aku yang pertama kali menemuinya sempat berang. Aku benar-benar tidak mempercayai semua ucapannya. Aku usir perempuan itu dari rumah. Tetapi hari berikutnya ia datang kembali dengan membawa amunisi yang lebih lengkap. Orangtua dan beberapa saudaranya ikut menyertai. Akhirnya, disaksikan Pak RT, bapak disidang pada hari itu. Ibu kebetulan ada di rumah. Dengan terbata-bata dan airmata berlinang bapak minta maaf dan mengakui perbuatannya. Bapak ternyata sudah lama menjalin hubungan terlarang dengan perempuan itu. Bahkan selama beberapa tahun belakangan ini bapak hidup satu atap di sebuah rumah kontrakkan tanpa kami ketahui sama sekali. Kini perempuan itu sudah beberapa bulan perutnya membesar. Ibu benar-benar shock dan hampir pingsan mendengarnya. Api dalam keluarga ini akhirnya tersulut sudah.

Bapak seperti orang bingung dan tak henti-hentinya minta ampun kepada ibu. Ibu hanya menangis sesenggukan tiada henti. Ibu yang biasanya perkasa di hadapan bapak, kini terlihat lunglai. Pengkhianatan bapak yang tiada terduga ini benar-benar mencabik-cabik dan menghancurkan hatinya. Aku tak tahu pasti apa sebenarnya yang dirasakan ibu. Kekokohan hatinya yang selama ini tak mau begitu saja dikalahkan itu seolah-olah sirna. Mungkin ini adalah tekanan terhebat dalam hidupnya.

Kami sekeluarga tidak bisa menerima perbuatan bapak. Mas Herman merasa malu dan tak mau bertatap muka lagi dengan bapak. Mbak Ratih pun demikian. Ibu sekarang telah pindah ke rumah yang dibelinya sendiri. Sesekali waktu mbak Ratih menemani saat suaminya dinas di luar pulau. Aku tak tahu mengapa ibu hanya meninggalkan bapak tanpa menuntut cerai seperti artis-artis di infotainment itu. Berat bagi keduanya, setelah seperempat abad lebih membina hubungan rumah tangga harus menerima kenyataan ini. Aku tahu ibu sangat mencintai bapak, begitu pula sebaliknya. Mungkin sudah takdir tuhan semuanya berjalan seperti ini, demikian aku sering menghibur diri. Aku tetap tinggal di rumah ini meski sebenarnya perasaanku juga terguncang hebat. Kuliahku berantakan dan sempat beberapa kali ingin mengundurkan diri.

Bapak dari hari ke hari semakin seperti orang linglung. Langkahnya hampa. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa kepada ibu dan kami, anak-anaknya. Di masa tuanya ia harus menanggung beban yang cukup berat. Apalagi harus menafkahi anak yang telah lahir dari rahim perempuan itu. Memang perempuan itu tidak minta dinikahi, ternyata ia juga punya kekasih lain yang kemudian menikahinya. Tetapi bapak dituntut untuk membiayai anak tersebut hingga dewasa kelak. Dalam hati kadang aku menyalahkan ibu, bapak yang terdominasi kekuasaannya oleh ibu hanya kena jebak perempuan sialan itu. Seandainya ibu tidak ngotot berkarier di luar rumah, mungkin tidak akan terjadi peristiwa seperti ini. Entahlah... Aku jadi tambah pusing memikirkannya !

***

Aku pulang lebih awal siang ini. Perasaanku menjadi tak enak setelah meninggalkan bapak tadi pagi dengan penuh kesal. Aku merasa bersalah karena mengacuhkan permintaannya. Kudapati rumah kosong. Bapak tidak tampak ada di rumah. Hanya radio bapak yang bernyayi dengan serak kemresek lagu-lagu tempo dulu.

Sesaat aku mencari bapak hingga ke kebun belakang. Tak ada seorangpun disini. Tiba-tiba hpku menyala. Mbak Ratih menelepon.

“Wan…cepat kemari! Bapak kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit…”

Darahku terkesirap, kakiku terasa lunglai.

Tambak, 21 April 2009

( Dimuat di Minggu Pagi, Minggu II Mei 2009)

Label:

Sabtu, 2009 Maret 21

LAMUNAN DI SEBUAH PAGI

Pagi ini saya nongkrong di depan rumah. Padahal biasanya jam segini masih terkapar pulas dibelai mimpi. Yah maklumlah, habis Subuh biasanya saya baru dapat memejamkan mata. Bermodalkan sebatang rokok dan segelas kopi hangat, saya pandangi jalanan di depan rumah yang mulai ramai. Lalu lalang kendaraan bermotor, sepeda onthel dan orang jalan kaki melintas di depan mata saya. Baru saya sadari kemudian, lingkungan sekitar saya tinggal perlahan-lahan ternyata mulai berubah. Menggeliat pasti menuju daerah ramai dan padat. Tak lama lagi kawasan ini akan menjadi kota atau mungkin sub kota. Tanda-tanda itu kelihatan jelas, sawah dan ladang mulai tergerus oleh perumahan, gedung-gedung dan juga pabrik. Anak-anak mudanya pun sudah mulai meninggalkan dunia pertanian yang lama mendarah daging, beralih ke usaha lain yang lebih menjanjikan uang dan tentu saja penghidupan yang lebih baik.

Begitulah, sejak di kampung saya berdiri pabrik wig asal Korea, perlahan-lahan roda ekonomi mulai menggeliat. Banyak pendatang bermunculan. Warung-warung makan dan kost-kostan tumbuh satu demi satu. Juga usaha-usaha lain yang menopang. Tentu saja suasana kampung yang dulu sepi mamring kini menjadi lebih bernyawa. Sebenarnya jauh sebelum itu, telah berdiri pula gedung-gedung milik instansi pemerintah di pinggiran kampung. Tapi memang suasana baru terasa lebih hidup setelah berdiri pabrik wig asal negeri ginseng itu. Konon pula, nanti di pinggiran kampung sebelah lain akan dibangun sebuah rumah sakit swata yang cukup besar, markas kodim juga akan berpindah ke kampung ini, pun juga pasar ikan yang mulai tersiar kabarnya segera dibangun. Saya jadi membayangkan betapa kampung saya akan berubah drastis beberapa tahun ke depan.

Ah, saya jadi rindu masa lalu. Teringat kenangan masa kecil, yang entah mengapa, terasa begitu indah. Saat kampung saya, bagi sebagian orang mungkin masih terbelakang. Belum ada listrik dan jalan yang beraspal. Tentu saja becek dan berlumpur pula di kala hujan. Tetapi bagi saya, suasana itu masih sangat murni dan alami. Rumah-rumah belum sepadat sekarang. Pepohonan, terutama kelapa masih begitu banyaknya, Sawah-sawah masih lapang. Dan yang kini benar-benar menghilang, kampung saya dulu dikepung oleh perkebunan tebu yang lumayan luas. Di pagi hari seperti ini, kicau burung dan suara hewan-hewan lain terasa merdu bersahutan terdengar di telinga. Kini, mungkin suara itu telah berubah menjadi deru mesin kendaraan bermotor dan alat-alat lain yang entah mengapa, terasa garang terdengar di telinga saya. Ah, kemana perginya kenangan itu ?!

Pikiran saya semakin melayang-layang. Kawan bermain dulu kini juga entah kemana ? Terpencar dan terpisah antara jarak dan waktu. Teringat kala mencuri dan membabat tebu hingga lari terkencing-kencing dikejar oleh mandor yang berwajah sangar. Teringat kenakalan-kenalan kecil sewaktu mencuri buah-buahan ranum di kebun tetangga. Teringat pula betapa getirnya menjadi anak orang biasa yang harus pontang-panting mencukupi biaya sekolah. Ah, saya serasa ingin kembali mencecap masa-masa itu....Dan yang pasti kenangan tetap tinggalah kenangan. Kehidupan terus berlanjut. Seperti orang bijak bilang, tiada yang abadi di dunia ini. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Dan memang begitu bukan, kita selalu berubah dan berevolusi dari waktu ke waktu.

Tapi satu yang patut disyukuri hingga kini, banyaknya perubahan di kampung saya tidak serta merta menggerogoti suasana kekerabatan dan keintiman diantara warga. Meskipun banyak penduduk baru berdatangan, rasa gotong royong, yang menjadi ciri khas kampung di Jawa, masih terjaga baik. Acara kerja bakti dan pertemuan-pertemuan antar warga semacamnya masih tetap lestari. Bahkan terasa lebih harmonis. Warisan adiluhung yang selayaknya kita pelihara bersama.

Mungkin yang patut disayangkan dari perubahan dan modernisasi di kampung saya adalah hilangnya lahan-lahan produktif, seperti sawah dan perkebunan . Selain merupakan sarana menggantungkan hidup bagi sebagian warga, juga merupakan lahan bermain bagi anak-anak yang cukup luas. Karena telah banyak terkikis, maka tak dapat disalahkan bila anak-anak itu mencari lahan bermain lain seperti di arena playstation atau tempat-tempat sejenis. Saya juga sempat ngenes melihat gaji pegawai pabrik sekarang, walau sudah lumayan, tetapi masih jauh dibawah UMP. Sebandingkah dengan pengorbanan melenyapkan lahan-lahan itu ? Ah, lamunan saya sudah semakin ngaco saja kiranya...

Dan seperti yang sudah-sudah, lamunan ini harus segera berakhir ketika kantuk tiba-tiba menggerayangi segenap tubuh. Setelah semalaman kurang tidur, pagi ini saya harus segara menuntaskannya. Mungkin di alam mimpi nanti, saya malah lebih bisa merajut kenangan masa lalu yang lebih manis dan indah...hehe.

Salam,

Beranda, Suatu Pagi

Label:

Jumat, 2009 Maret 13

TAWA YANG INDAH.....

Inilah sepenggal kisah perjalanan keluarga kami. Hari Minggu, tanggal 8 Maret 2009, untuk pertama kalinya bapak dan ibu saya melepas anaknya ke jenjang pernikahan. Adik saya yang terakhir mendahului kedua kakaknya melepas masa lajang. Tidak ada yang wah dari pernikahan maupun resepsinya, kecuali kegembiraan dan tawa yang yang selalu menghiasi kedua keluarga ini. Seolah-olah menyambut dan menjadi saksi kedua mempelai menuju babak baru dalam kehidupan mereka.

Hujan yang turun menjelang ijab kabul dan langit cerah mewarnai acara resepsi semoga menjadi pertanda baik bagi perjalanan kehidupan rumah tangga mereka ke depan. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kami haturkan bagi kerabat, sahabat, tetangga maupun handai taulan yang telah sudi membantu hajatan kecil keluarga kami. Semoga jalinan kekerabatan kita menjadi semakin erat karenanya.

Terakhir, dengan rasa syukur yang tiada terhingga kami sekeluarga hanya bisa berbagi kebahagiaan dengan Anda lewat postingan kecil ini. Semoga derai-derai tawa kami senantiasa mengalir seperti hari-hari ini menyambut esok yang lebih cerah dan indah.....

Terima kasih.





inilah sebuah awal itu....





Doa-doa kami....




khidmat....hehe




The make over...




adik iparku...lek !




adhi-adhiku ki pancen manis-manis....




penyamun di sarang penjahat...hehe,




genthone Tambak...hehe





keponakan-keponakan yang mengagumkan...




Ngantuk-ngantuk sithik...




Old crack sensation...hehe,





dukuhku mlebu internet...hehe




luber....




jane sik pengin tak jupuk gambare penyayine...hehe




tawa yang indah.....

Label:

Jumat, 2009 Februari 20

ANGKRINGAN



di bentang malam
kala gundah datang menyapa
dan tubuh kadang luka
rinduku pasti menuju padamu
kekasih yang selalu setia menunggu
temani mabukku sampai lupa
sampai esok pagi tiba
aku telah terbunuh bahagia
meski sesaat kau tiada...

TBK, Januari'08

Label:

Minggu, 2009 Februari 01

SUSU SENJA

dari balik punggung yang renta
senja selalu mengintip malu-malu
sudah karatan aku masih menghisap susu ibu

andai masih punya rasa malu
tentu akan kurawat dan kujaga baik-baik tubuh ibu
supaya ia dapat selalu tersenyum,
menatap senja dengan bahagia

BeeNet, 1-02-09

Label:

Kamis, 2009 Januari 29

KETIKA WAKTU ITU TIBA



Gegaraning wong akrami dudu bandha, dudu rupa. Amung ati pawitane. Luput pisan kena pisan. Yen gampang luwih gampang. Yen angel, angel kalangkung. Tan kena tinumbas arta...( Serat Wulang Reh-Pakubuwono IV)

Demikian bunyi tembang Asmaradana yang sering dinukil pada wedding invitation itu. Kurang lebih isinya adalah bahwa dasar orang menikah itu bukan harta ataupun rupa tetapi hati yang menjadi modal utamanya. Mengapa saya tertarik menuliskannya pada postingan ini? Tak lain dan tak bukan karena beberapa hari ke depan banyak orang-orang dekat dan tercinta saya mulai melangkah ke jenjang pernikahan. Mulai adik kandung, sahabat, ataupun beberapa kenalan saya. Itung-itung tulisan ini sebagai kado buat mereka. Jadi...nikmatilah sedikit wejangan dari lelaki penunggu ilalang ini..hehe

Yah, begitulah. Menjelang hari bahagia itu tiba, saya dapat melihat sinar kebahagian terpancar dari wajah mereka. Muka selalu berseri-seri-seri, senyum dan tawa disana-sini. Perjuangan panjang merajut tali cinta sebentar lagi telah menemukan rumahnya. Terbayang onak duri selama menggapai pintu itu tidaklah mudah. Mulai dari perkenalan, berpacaran, mungkin diwarnai sedikit pertengkaran ataupun putus nyambung serta tetek bengek lainnya sampai pada akhirnya mencapai tahap pernikahan. Seolah terbayar sudah segala jerih dan payah. Walau sebenarnya, perjuangan yang lebih berat menanti mereka ke depan. Perjuangan mengisi organisasi kecil bernama rumah tangga dan mencetak generasi penerus yang secara norma masyarakat maupun agama pasti ada pertanggungjawabannya. Dengan semangat cinta mereka selama ini, saya berdoa dan yakin mereka akan mampu melaksanakan amanah itu dengan baik.

Disini, sedikit akan saya sentil mengenai fenomana pernikahan yang mulai mengalami pergeseran makna akhir-akhir ini. Pernikahan yang pada dasarnya adalah sebuah ikatan suci antara laki-laki dan perempuan untuk bersama-sama membangun biduk rumah tangga yang dirahmati tuhan, dimana di dalamnya terdapat unsur cinta dan tanggungjawab, seolah-olah hanya sekedar main-main dan seremoni semata. Lihatlah maraknya pernikahan siri dan fenomena kawin cerai di berbagai kalangan dewasa ini. Kawin siri pada intinya adalah pernikahan yang disembunyikan yakni melalui penghulu tidak resmi dan sudah tentu tidak memiliki akta pernikahan yang sah. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang keblinger dalam urusan seksual, seperti selingkuh atau hamil di luar nikah. Pernikahan seharusnyalah diberitahukan ke sebanyak mungkin orang agar tidak terjadi fitnah di kemudian hari. Pernikahan model begini yang akan menanggung akibatnya adalah anak-anak mereka kelak. Tanpa memiliki surat-surat yang sah akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan hak-haknya.

Fenomena yang lebih memilukan lagi adalah kawin cerai. Sebuah penyakit kronis yang mulai menjangkiti kalangan elit sampai rakyat pinggiran negari ini. Pada waktu pernikahan menggelar resepsi dan pesta yang wah dan menghabiskan banyak uang. Tapi tak seumur jagung, pernikahan itu berakhir di pengadilan agama alias terjadi perceraian. Setelah bercerai, mereka menjalin hubungan baru, nikah lagi kemudian cerai lagi...begitu seterusnya. Pernikahan seperti hanya untuk melepas nafsu semata, bersenang-senang tanpa memikirkan mau dibawa kemana biduk rumah tangga tersebut ke depan.

Maka sudah selayaknyalah, kita mengembalikan kembali esensi pernikahan yang sesungguhnya. Saya rasa adik-adik dan kawan-kawan saya tersebut adalah orang-orang yang sudah teruji cinta, dan tanggungjawabnya. Kendala dan rintangan pasti akan menguji perjalanan suci mereka. Jadikanlah itu sebagai sebuah romantika menuju sebuah kehidupan yang selalu diliputi kebahagiaan. Walau mungkin sederhana, semoga kisah cinta kalian akan terukir indah sampai ke anak cucu esok...

Terakhir saya hadirkan pula puisi dari Joko Pinurbo sebagai penutup :


Rumah Cinta

Aku datang ke dalam engkau
ke rumah rantau yang melindap
di antara dua bukit
di mana senja mengerjap-ngerjap
dalam kerlap biru langit.

Ada sejoli celana berkibar-kibar
di balik jendela :
Hai, kami sedang belajar bahagia
Ada buku masih terbuka di atas meja
dan ada ayat rahasia :
Miskin mungkin bencana,
tapi kaya juga cuma karunia.

Aku pulang ke dalam engkau,
ke rumah singgah yang terlindung
diantara dua kubah
dimana ia datang berkerudungkan bulan,
merapikan tubuh yang berantakan
dan berkata : Supaya tidurmu makin sederhana.


Salam manis selalu,




Label:

Jumat, 2008 Desember 19

BELAJAT KEARIFAN DARI TIBET


Saya menulis ini karena terilhami filmnya Brad Pitt, Seven Years in Tibet. Beberapa hari lalu saya sempat meminjamnya di sebuah rental vcd. Ternyata masih ada juga film lawas ini. Sebenarnya sudah berkali-kali saya menontonnya, tetapi hanya sekilas dan tak utuh, maklum cuma di tv. So...begitu teringat kembali dengan film ini, buru-buru saya cari di beberapa rental. Saya ingin melihat kembali keheningan Himalaya dan Tibet yang menjadi latar film ini.

Film arahan sutradara Jean Jacques Annaud ini berkisah tentang petualangan seorang pendaki gunung asal Austria, Heinrich Harrer ( Brad Pitt ) yang terdampar di Tibet saat gagal melakukan pendakian ke Gunung Nanga Parbat, puncak tertinggi di Himalaya. Ia terpaksa kembali ke perkemahan bersama kawan-kawannya karena gagal mencapai puncak tersebut. Tetapi sesampai di perkemahan, Pasukan Inggris keburu menangkapnya. Waktu itu sedang berlangsung Perang Dunia II. Beruntung Harrer dan kawannya, Peter Aufschnainater ( David Thewlis ) berhasil meloloskan diri dan pada akhirnya terdampar di Lhasa, kota tersuci di Tibet, selama tujuh tahun.

Di Lhasa ia berteman dan menjadi tutor Dalai Lama ke-14 ( Jamyang Wamchuk) yang waktu itu baru berusia 11 tahun, pemimpin religius tertinggi Tibet. Hubungan keduanya mempengaruhi Harrer dari seorang Austria yang egois menjadi seorang yang menemukan kedamaian. Begitu juga dengan Dalai Lama yang menjadi tahu banyak hal tentang kehidupan barat.

Dalam versi nyata, ketika Tentara China menginvasi Tibet tahun 1951, Harrer kemudian melintas ke India melalui Jalan Sikkim, tak lama sebelum Dalai Lama terpaksa melarikan diri ke India dan kemudian mendirikan pemerintahan Tibet di pengasingan. Keduanya bertemu secara periodik pada tahun-tahun sesudahnya. Dalai Lama tidak pernah menyadari masa lalu Harrer sebagai Nazi hingga muncul berita-berita di media. Dalai Lama tetap mengatakan kepada sahabatnya tersebut bahwa bila hati nuraninya bersih, maka tak ada apapun yang perlu ditakuti olehnya.

Demikianlah, pikiran saya kemudian melayang ke masa sebelum pendudukan China, dimana Tibet dikenal sebagai Negeri Atap Dunia yang menggelitik rasa ingin tahu banyak orang karena pesona keindahan alamnya di ketinggian dengan segala ketertutupan dan tentu saja kisah pemimpin spiritualnya, Dalai Lama. Seorang Dalai Lama bukanlah raja, melainkan seorang pemimpin spiritual tempat rakyatnya bernaung. Tak masalah dimanapun keberadaannya, kehadiran seorang Dalai Lama membawa ketenangan dan kestabilan dalam jiwa rakyat Tibet. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia harus hidup, bahkan dalam keadaan terbuang.

Rakyat Tibet adalah rakyat yang terbuka, cinta damai dan kaya spiritual. Mereka mungkin tertinggal secara teknologi, karena memang tak menginginkan itu. Mereka sengaja membiarkan roda kemajuan berjalan lambat agar roda-roda spiritual berjalan lebih pesat. Mereka memilih bagal ketimbang sepeda motor, memilih layang-layang ketimbang radio control dan mereka tak rela dijajah karena mereka adalah jiwa-jiwa yang bebas.

Ada salah satu ujaran menarik dari Dalai Lama ke-14 yang mengelitik saya. Menurut beliau seluruh ajaran Sang Buddha dapat dinyatakan dalam dua kalimat. Yang pertama, "Berusahalah untuk membantu makhluk lain". Yang kedua, "Jika tidak bisa, setidaknya jangan menyakiti makhluk lain". Kedua ajaran ini didasarkan pada belas kasih. Hal lain dalam ajaran Buddha adalah kebijaksanaan, yaitu kepiawaian dalam menjalankan nilai-nilai luhur yang merupakan upaya untuk pencapaian pencerahan sempurna. Tanpa pengetahuan dan tanpa sepenuhnya mendayagunakan kecerdasan, sangatlah sulit untuk mencapai kebijaksanaan yang nyata. Belas kasih dan kebijaksanaan merupakan landasan praktik kesempurnaan untuk pencapaian ke-Buddha-an. Seseorang yang bercita-cita mencapai ke-Buddha-an harus berjuang untuk memenuhi kedua landasan ini.

Hal-hal diatas mungkin kelihatan mustahil bagi orang jaman sekarang. Betapa kita membantu orang lain karena selalu ada pamrih, mungkin untuk merengkuh jabatan, meraup banyak uang ataupun juga agar diakui keberadaan kita...hehe. Bila itu tidak tercapai kebencian dan ingin meyakiti seolah menjadi sebuah pelampiasan. Adakah sekarang ini cinta suci, cinta yang benar-benar tulus seperti diujar Sang Budha diatas ? Yah, menurut saya pribadi hakekat cinta yang sebenarnya antar sesama manusia adalah saling mengasihi, dimana hati kita akan senang bila orang lain merasakan senang dan tentu saja hati kita merasa ikut susah bila orang lain mengalami kesusahan. Weh, aneh ya...kok malah ngelantur...hehe.

Ah, saya tutup saja cerita dan lamunan tentang Tibet yang tak menentu ini : D. Tentu kita semua berharap dan berdoa agar rakyat Tibet dapat segera hidup damai seperti dulu lepas dari pendudukan bangsa asing. Semoga !



Wates, in the morning



Label: